افتراءات و اتهامات حزب التحرير الضال على دعوة الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب

افتراءات و اتهامات حزب التحرير الضال على دعوة الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمه الله

Fitnah dan Tuduhan Dusta Kelompok Sesat Hizbut Tahrir Terhadap Dakwah Syaikh Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu

 

إعداد :

أبو سلمى محمد الأثري

Penyusun :

Abu Salma Muhammad al-Atsari

 

 

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

"Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (Al Isra : 81)

 

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS. Al-Anbiya’ : 18).

 

 

Tidaklah setiap orang yang datang di dunia ini dengan membawa kebaikan, melainkan dia pasti memiliki musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia, sampai-sampai para anbiya’ (para Nabi) juga tidak lepas dari permusuhan ini[1]. Begitu juga permusuhan mereka terhadap para ulama pengibar panji dakwah al-Haq ini mereka lakukan dengan sengit dan dengan kedengkian yang luar biasa.

 

Hal ini seperti apa yang dialami oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Ibnu Taimiyah al-Harrani rahimahullahu, yang mana dakwah beliau difitnah, disudutkan dan dituduh dengan kedustaan-kedustaan. Bahkan beliau sampai-sampai divonis kafir murtad oleh ahlul bida’ wal ahwa’, (pengikut kebid’ahan dan hawa Nafsu) dicerca dan dilabeli dengan tuduhan-tuduhan keji semisal mujassim[2], musyabbih[3], hasyawiyah[4] dan nashibah[5].

 

Diantaranya pula apa yang mereka lakukan terhadap asy-Syaikhul Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu, yang mana para musuh-musuh dakwah memerangi dakwahnya dan menfitnahnya dengan tuduhan-tuduhan dusta dan fitnah, agar manusia menjauh dari dakwah mubarokah (yang diberkahi) ini dan agar manusia senantiasa melanggengkan kesyirikan dan kebid’ahan yang dipelihara oleh ulama-ulama suu’ (jahat) yang mereka warisi dari kalangan shufiyun quburiyun (pengikut thariqat sufi dan penyembah/pengkultus kuburan) dan syi’ah rafidhah (aliran syi’ah yang mengkafirkan para sahabat Nabi) serta kaum ilmaniyyun (sekuler) dan mustasyriqin (orientalis) yang hasad terhadap Islam.

Diantara para pendengki yang membenci dakwah mubarokah ini adalah Hizbut Tahrir[6], yang mencela dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan menuduh beliau sebagai agen Inggris –nas’alullaha as-Salamah wal ‘Aafiyah (kita memohon keselamatan kepada Allah) – dan dengan tuduhan-tuduhan dusta lainnya yang mereka kumpulkan dari musuh-musuh dakwah dari kalangan shufiyun dan syi’ah.

 

Penyebab kami menyusun risalah ini adalah banyaknya tuduhan-tuduhan batil dan dusta yang disebarkan oleh simpatisan juhala’ (orang-orang yang bodoh) Hizbut Tahrir di website-website, mailing list-mailing list dan media-media informasi lainnya yang mengaburkan dan menfitnah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Telah sampai kepada kami beberapa tulisan ‘gelap’ yang ditulis oleh simpatisan HT, terutama yang disebarkan oleh Abu Rifa’ al-Puari (baca : Abu Riya’ al-Buali dan seorang syabab (pemuda) HT yang bersembunyi di balik nama al-Mujaddid[7] (baca : al-Muharrif[8] atau al-Mudzabdzab[9]) yang menulis artikel berjudul “Telaah Kritis Sejarah Wahabi – Salafi”[10].

 

Risalah ini insya Alloh akan menjawab tuduhan-tuduhan mereka secara gamblang dan ilmiah. Kami akan menunjukkan kebodohan mereka terhadap aqidah salafiyah (aqidah Nabi dan Para sahabatnya) dan jauhnya mereka dari manhaj shahih, kami akan mengungkap pengkhianatan mereka terhadap hakikat dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan para pengikutnya.

 

Setelah kami telaah dan baca tulisan mereka, terutama tulisan al-Mudzabdzab dan Abu Riya’ al-Buali, kami dapatkan bahwasanya mereka di dalam menulis bantahannya terhadap Syaikh Ibnu Abdil Wahhab tidak keluar dari referensi kaum shufiyun quburiyun, seperti kitab Durorus Saniyyah fir Raddi ‘ala Wahhabiyah[11] karya seorang shufi quburi Ahmad Zaini Dahlan dan referensi-referensi yang tidak ilmiah serta tidak berdasar lainnya, seperti buku Kaifa Hudimat al-Khilafah (bagaimana kekhalifan di hancurkan) karya pembesar mereka, Abdul Qodim Zallum[12]. Mereka juga banyak menukil dari website-website shufiyah (berpemahaman tasawuf) yang berbahasa Inggris, yang dikelola oleh pembesar shufiy di Amerika, seperti Nazhim al-Qubrisi[13] dan Hisyam Kabbani[14].

Ada dua point utama yang akan kami komentari dan klarifikasi dari tuduhan syabab Hizbut Tahrir ini, yaitu tuduhan yang menyatakan bahwa :

1.        Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan pengikutnya memberontak dari khilafah Utsmaniyah (di Turki).

2.        Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan pengikutnya adalah seorang agen mata-mata Inggris.

Dan masih banyak lagi sebenarnya tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada beliau. Namun kami rasa dua point di atas yang paling urgen/penting untuk dibahas, terlebih lagi tuduhan-tuduhan lainnya terhadap Syaikh al-Imam rahimahullahu adalah tuduhan yang begitu mudah untuk dibantah. Seperti misalnya, dikatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab tidak mencintai Rasulullah e dikarenakan beliau mengharamkan peringatan Maulid Nabi e dan membid’ahkan sholawat kepada Nabi e. Bagaimana bisa dikatakan bahwa beliau tidak mencintai Nabi e, padahal beliau senantiasa menegakkan sunnah Nabi, membelanya dari makar ahlul bid’ah, bahkan beliau menulis muktashar sirah nabawiyah (Ringkasan sejarah nabi). Bagaimana bisa dikatakan bahwa beliau membid’ahkan sholawat kepada nabi e, padahal beliau orang yang paling sering bersholawat kepada Nabi e, namun beliau membid’ahkan sholawat-sholawat yang diciptakan kaum shufiyun yang di dalamnya terdapat unsur ghuluw (sikap berlebih-lebihan)kepada Nabi[15].

 

Sebelum menjawab syubuhat ini, kami nasehatkan kepada syabab Hizbut Tahrir yang mencela dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu dan selainnya. Ingatlah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikut ini :

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (Al-Israa’ : 36)

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mumin dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al Ahzab : 58)

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian di tuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan yang nyata. (An Nisa : 112)

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ .لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (An-Nur 11-12)

 

Dengan bertabaruk (mencari berkah) kepada Asma Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha penyayang, kami memulai risalah bantahan terhadap musuh-musuh dakwah ini dan pembelaan terhadap imam Ahlus Sunnah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

 

Pertama, Apakah Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab memberontak dari Khilafah Utsmaniyah??

 

Mereka menuduh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab khuruj (keluar dari ketaatan/memberontak) terhadap Daulah Utsmaniyah dan memeranginya. Pembesar Hizbut Tahrir, Abdul Qodim Zallum ghofarallahu lahu (semoga Allah mengampuninya) mendakwakan bahwa gerakan Wahabiyyah merupakan diantara penyebab runtuhnya Daulah Utsmaniyah. Dia berkata: Inggris berupaya menyerang negara Islam dari dalam melalui agennya, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud. Gerakan Wahhabi diorganisasikan untuk mendirikan suatu kelompok masyarakat di dalam negara Islam yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud dan dilanjutkan oleh anaknya, Abdul Aziz. Inggris memberi mereka bantuan dana dan senjata. [16]

 

Sebelum menjawab tuduhan ini, maka lebih baik jika kita simak terlebih dahulu perkataan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab tentang wajibnya mendengar dan ta’at kepada imam kaum muslimin, baik yang fajir maupun yang sholih, selama di dalam perkara yang ma’ruf bukan kemaksiatan.

 

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Qoddasallahu ruhahu (semoga Allah mensucikan ruhnya) berkata di dalam risalahnya terhadap penduduk Qoshim :

 

وَأَرَى وُجُوْبَ السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ بَرِّهِمْ وَفاَجِرِهِمْ مَا لَمْ يَأْمُرُوْا بِمَعْصِيَةِ اللهِ وَمَنْ وَلِيَ الْخِلاَفَةَ وَاجْتَمَعَ عَلَيْهِ النَّاسُ وَرَضُوْا بِهِ وَغَلَبَهُمْ بِسَيْفِهِ حَتىَّ صَارَ خَلِيْفَةً وَجَبَتْ طَاعَتُهُ وَحَرُمَ الْخُرُوْجُ عَلَيْهِ .

 

“Aku berpendapat bahwa mendengar dan ta’at kepada pemimpin kaum muslimin baik yang fajir maupun yang sholih adalah wajib, selama di dalam perkara yang mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Alloh. Juga kepada penguasa khilafah yang umat bersepakat atasnya dan meridhainya, ataupun yang menggulingkan kekuasaan dengan pedangnya hingga dirinya menjadi khalifah, maka wajib taat kepadanya dan haram memberontak darinya.”[17]

 

Beliau rahimahullahu juga berkata :

 

الأَصْلُ الثَّالِثُ : أَنَّ مِنْ تَمَامِ اْلاِجْتِمَاعِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَا وَلَوْ كاَنَ عَبْداً حَبَشِيّاً ..

 

“Pokok yang ketiga adalah : termasuk kesempurnaan ijtima’ (bersatu) adalah mendengar dan ta’at kepada siapa saja yang memimpin kami walaupun dia adalah seorang budak dari Ethiopia…”[18]

 

Setelah kita simak penuturan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu tentang kewajiban mendengar dan ta’at terhadap imam kaum muslimin, baik dia seorang yang fajir maupun sholih –selama bukan dalam kemaksiatan-, maka kita telah mendapatkan suatu jawaban penting dari syubuhat dan tuduhan mereka, yaitu bahwa Syaikh tidaklah beraqidah khowarij (aliran yang mengkafirkan kaum muslimin yang melakukan dosa besar) dan beliau tidak pernah mengajarkan untuk memberontak kepada penguasa kaum muslimin.

 

Lantas bagaimana tuduhan yang demikian ini bisa muncul? Maka kami jawab : Tuduhan ini muncul dikarenakan kebodohan mereka terhadap Tarikh/sejarah Utsmani ataupun kebodohan mereka terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu. Tuduhan ini juga muncul dikarenakan kedengkian mereka terhadap dakwah yang mubarokah ini dan karena kebodohan mereka yang sangat terhadap tauhid yang merupakan asas dakwah para nabi dan rasul.

 

Abdul Qodim Zallum ghofarallahu dan selainnya menutup mata dari sejarah Utsmani. Apakah mereka tidak tahu –atau pura-pura tidak tahu- bahwa Daulah Utsmaniyah tatkala itu terbagi menjadi 32 iyalah (distrik) termasuk di dalamnya wilayah arab terbagi menjadi 14 distrik dimana Nejd[19] tidaklah termasuk di dalamnya. Fadhilatus Syaikh DR. Sholih al-Abud hafizhahullahu berkata :

“Nejd bukanlah termasuk bagian dari pengaruh Daulah Utsmaniyah, kekuasaannya tidak sampai kepadanya dan penguasa Utsmaniyah tidak pernah datang di Nejd. Tidak pernah pula pasukan Turki datang menembus negeri ini di zaman sebelum munculnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu. Dan yang menunjukkan hakikat kebenaran sejarah ini adalah ketetapan pembagian wilayah administrasi Utsmaniyah yang terdapat di dalam risalah Turki yang berjudul “Undang-undang Utsmaniyah yang mencakup daftar perbendaharaan negeri”, yang ditulis oleh Yamin Ali Afandi, petugas yang menjaga daftar ‘al-Khoqoni’ pada tahun 1018 H. (1609 M.). Risalah ini menjelaskan bahwa semenjak awal abad ke-11 Hijriah, Daulah Utsmaniyah terbagi menjadi 32 distrik diantaranya 14 distrik wilayah Arab dan Negeri Nejd tidaklah termasuk bagiannya kecuali Ihsa’, jika kita menganggapnya sebagai bagian dari Nejd…”[20]

 

Adapun tuduhan Zallum kepada Alu Su’ud sebagai antek Inggris dan dikatakan bahwa Alu Su’ud memberontak kepada Daulah Utsmaniyah, ini menunjukkan kejahilan Zallum kepada sejarah. Abdullah bin Su’ud menulis surat yang berisi pujian kepada Sultan Mahmud al-Ghozi sebagai berikut :

 

“Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.. Segala puji hanyalah milik Alloh yang menjadikan bagi penyakit akut ada obatnya, yang mencegah dan menangkis niat buruk musuh-musuh (agama) dengan perdamaian dan perbaikan, yang mana kedua hal ini merupakan penghalang terjadinya kekacauan yang membinasakan. Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada makhluk yang paling mulia dan yang paling suci, Muhammad penutup para nabi, yang menyampaikan sebaik-baik berita. Wa ba’d, Saya thowaf mengelilingi Ka’bah, yang merupakan cita-cita seorang hamba, yang mana (Ka’bah ini) merupakan ambang pintu negeri kami yang merupakan poros tujuan setiap daerah yang ada, yang merupakan ruh dari jasad alam semesta sebagai tempat berlezat-lezat orang-orang Hijaz dan Badui, yang menjadi tempat transit bagi orang-orang yang melakukan perjalanan baik pada sore maupun pagi hari, (wahai) orang yang memberi arahan, manusia yang menjadi pengelihatan bagi mereka, yang mana orang yang gelisah dapat tertidur pulas di bawah naungannya, yang mana orang yang berakal dan bijaksana kembali di bawah pengayomannya, yang mana akhlaknya lebih halus daripada hembusan semilir angin di pagi hari, dan karisma yang menarik para pelayar untuk datang, (wahai) sultan dua daratan dan raja dua samudera, yang muncul pandangannya dari tempat yang tinggi, (wahai) Sultan putera dari Sultan, Tuan kami Sultan Mahmud al-Ghozi, Saya menghaturkan permintaan saya dengan permohonan yang amat sangat, yaitu apabila hambamu ini dari kaum muslimin, (memohon dirimu agar) tiada henti-hentinya memenuhi syarat-syarat Islam, yaitu meninggikan kalimat syahadat, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke Baitullah al-Haram, serta mencegah dari kezhaliman...”[21]

 

Lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa Alu Su’ud memberontak kepada khilafah, padahal mereka mengirimkan surat kepada pembesar-pembesar daulah Utsmaniyah, memuji mereka dan mengharapkan keadilan dari mereka, dikarenakan mereka dirongrong dan difitnah oleh kaum pendengki dan penfitnah.

 

Adapun dakwaan Abdul Qodim Zallum ghofarallahu lahu bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu merupakan penyebab runtuhnya Daulah Utsmaniyah, maka syaikh al-Allamah Mahmud Mahdi al-Istanbuli rahimahullahu berkata menjawab tuduhannya :

“Harusnya penulis ini (i.e. Zallum) menopang pendapatnya dengan dalil yang kuat dan kokoh, sebagaimana perkataan seorang penyair :

وإذا الدعاوى لم تقم بدليلها بالنص فهي على السفاه دليل

Jika para pendakwa tidak menopang dalilnya dengan teks dalil

Maka dia berada di atas selemah-lemahnya dalil

Dimana telah diketahui bersama bahwa sejarah telah menyebutkan bahwa Inggris menghalangi dakwah ini semenjak awal mula berdirinya, mereka khawatir akan kebangkitan Islam.”[22]

 

Beliau rahimahullahu juga berkata :

“Sungguh keanehan yang dapat menyebabkan tertawa sekaligus menangis, bahwa Ustadz ini (i.e. Zallum) menuduh gerakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab termasuk penyebab runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dimana telah diketahui bersama bahwa gerakan ini berdiri pada sekitar tahun 1811 M. sedangkan Khilafah Utsmaniyah runtuh pada sekitar tahun 1922 M.”[23]

 

Jika mereka mau obyektif dan adil, niscaya mereka mau membaca kitab-kitab sejarah Utsmaniyah dan menelaah penyebab runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah, bukannya malah menghantam dakwah mubarokah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, menuduh dan menfitnahnya dengan tuduhan dan fitnah yang keji, yang tidak berlandaskan hujjah dan dalil sedikitpun. Oleh karena itu kami menantang mereka yang menuduh demikian ini untuk menunjukkan kepada kami kitab sejarah Utsmaniyah yang ditulis oleh sejarawan obyektif yang membenarkan tuduhan mereka.

 

Kedua, Tuduhan mereka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pembelanya adalah antek-antek Inggris.

 

Kami katakan kepada mereka para penuduh itu : هذا بهتان عظيم (Inilah adalah suatu kedustaan yang besar). Bagaimana tidak, ketika mereka tidak mampu membantah dakwah tauhid ini secara ilmiah, maka mereka menghalalkan segala cara untuk menfitnah dan membuat kedustaan terhadap syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu. Syaikh Malik bin Husain berkata :

“Senantiasa musuh-musuh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu berdaya upaya dengan berbagai macam cara dan sarana untuk menjelekkan citra dakwah perbaikan ini, dengan berbekal hasutan yang tiada lain hanyalah kedustaan dan fitnah. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya dengan Alloh.”[24]

 

Diantara cara mereka untuk menghantam dan menjelekkan dakwah mubarokah ini, adalah dengan berpegang pada mudzakkarat (catatan harian) seorang yang tidak dikenal (majhul) di dalam sejarah, yang bernama Hampher[25]. Syabab Hizbut Tahrir beserta barisan pendengki dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersorak sorai gembira dengan catatan harian Mr. Hampher ini. Mereka menukil, menyebarkan dan menuduh dengan bukti ini, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah agen Inggris. Wal’iyadzubillah.

 

Yang membuat aneh adalah, Hizbut Tahrir ini menolak khobar ahad meskipun shahih dan berasal dari rawi (periwayat hadits) yang tsiqoh (terpercaya), ‘adil (tidak pernah melakukan dosa besar) dan dhobit (hafalannya kuat) di dalam masalah I’tiqod (keimanan) namun mereka dengan serta merta menerima berita dari seorang yang kafir[26], majhul (tidak dikenal)[27] dan pelaku kemaksiatan[28] dalam rangka menuduh aqidah seorang muslim pembela tauhid dan sunnah. Allahul Musta’an. Dimanakah akal-akal mereka?!!

 

Untuk membantah syubuhat beracun namun rapuh ini, Syaikh Malik Husain hafizhahullahu berkata :

“Setelah penelitian saya terhadap mudzakkarat ini, menjadi jelas bagi saya bahwa mudzakkarat ini merupakan naskah yang dibuat-buat oleh individu maupun kelompok yang memiliki tujuan untuk mencemarkan Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu dengan kedustaan dan fitnah, dan dalil-dalil yang saya katakan ini banyak…”[29]

 

Berikut ini kami nukilkan dalil-dalil yang disebutkan oleh Syaikh Malik Husain nafa’allahu bihi atas kedustaan dan kepalsuan mudzakkarat Mr. Hempher ini.

  1. Dengan meneliti sejarah yang disebutkan di dalam mudzakkarat, menjadi jelas bagi kita bahwa Hempher ini tatkala bertemu dengan Syaikh rahimahullahu, umur syaikh ketika itu kurang lebih sekitar sepuluh tahun. Hal ini tidak sesuai, bahkan kontradiksi dengan apa yang disebutkan di dalam mudzakkarat (hal. 30) bahwa Hampher berkenalan dengan seorang pemuda yang sering mondar-mandir di toko ini yang faham tiga bahasa, yaitu bahasa Turki, Persia dan Arab. Tatkala itu dia dalam fase menuntut ilmu agama, yang namanya adalah Muhammad bin Abdil Wahhab, dan dia adalah seorang pemuda yang sangat antusias di dalam menggapai tujuannya.

Inilah perincian dalil-dalilnya :

-         Ia menyebutkan di dalam mudzakkarat hal. 13 : “Kementrian penjajahan Inggris mendelegasikan Hampher ke al-Asaanah, pusat Khilafah al-Islamiyah pada tahun 1710M/1122H.

-         Ia menyebutkan pada halaman 18, bahwa dia tinggal di al-Asaanah selama dua tahun kemudian dia kembali ke London atas perintah (Kementrian Penjajah Inggris) dalam rangka menyerahkan ketetapan yang terperinci tentang kondisi ibukota pemerintahan khilafah Utsmaniyah.

-         Ia menyebutkan pada halaman 22, bahwa ia tinggal di London selama 6 bulan.

-         Ia menyebutkan pada halaman 22, bahwa ia pergi menuju ke Bashrah yang memerlukan waktu perjalanan selama 6 bulan.

-         Di tengah-tengah keberadaannya di Bashrah, ia bertemu dengan syaikh rahimahullahu.

-         Sehingga apabila dijumlahkan semua tahun sejarah, ia bertemu dengan syaikh pada tahun 1125 H./1713 M. sedangkan syaikh dilahirkan pada tahun 1115 H.[30]/1703 M. Sehingga disimpulkan bahwa Hampher bertemu syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab ketika berusia 10 tahun. Dan ini merupakan dalil yang nyata atas kebatilan mudzakkaraat ini secara global dan terperinci.

  1. Dia menyebutkan di dalam mudzakkarat-nya (hal. 100) bahwa syaikh rahimahullahu menampakkan dakwahnya pada tahun 1143 H., dan ini adalah suatu kedustaan yang nyata, dimana sejarah menyebutkan bahwa syaikh menampakkan dakwahnya setelah wafatnya ayahnya, pada tahun 1153 H. Perhatikan kerancuan sejarah yang nyata ini.
  2. Sesungguhnya sikap Inggris terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab tidaklah menyokong dan menolong, namun memusuhi dan memeranginya. Sebagaimana akan datang penjelasannya setelah ini –insya Alloh-.
  3. Tidak kita dapatkan penyebutan mudzakkarat ini oleh orang-orang sezamannya, padahal musuh-musuh dakwah mubarokah ini senantiasa menjelekkannya dan menyebarkan setiap kejelekan dakwah ini, namun anehnya mudzakkarat ini keluar/muncul akhir-akhir ini. Hal ini menjunjukkan secara jelas kedustaan dan kebohongan mudzakkarat ini.
  4. Hampher ini adalah orang yang tidak dikenal. Dimana ma’lumat (surat perintah) yang terperinci tentangnya? yang menjelaskan namanya, kedudukannya, dan yang berkaitan tentang tugasnya dan perannya dari pemerintah Inggris.
  5. Sesungguhnya siapa yang membaca mudzakkarat ini, dapat memastikan bahwa penulisnya pastilah bukan seorang nashrani, dikarenakan banyaknya ungkapan-ungkapannya yang mencela dan merendahkan agama nashrani termasuk juga Inggris.
  6. Dua naskah terjemahan mudzakkarat yang telah dicetak, tidak disebutkan tentang maklumat mudzakkarat ini, dari aspek naskah aslinya, apakah berupa cetakan ataukah tulisan tangan dan dengan menggunakan bahasa apa??
  7. Penterjemah mudzakkarat ini tidak dikenal. Pada naskah terjemahan pertama tidak disebutkan siapa penterjemahnya sedangkan pada naskah terjemahan kedua hanya disebutkan penerjemahnya dengan inisial د.م.ع.خ.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang disebutkan syaikh Malik Husain tentang batilnya Mudzakkarat Mr. Hampher ini. Silakan lihat lebih rincinya di majalah al-Asholah no. 31, tahun ke-6, 15 Muharam 1422 H.

 

Kami katakan kepada Hizbut Tahrir dan orang-orang yang sefikrah dengan mereka, dengan menukil ucapan seorang penyair :

و من جعل الغراب له دليلا يمر به على جيف الكلاب

“Barangsiapa yang menjadikan burung gagak sebagai dalil

Maka ia akan membawanya melewati bangkai-bangkai anjing”

 

Syaikh Malik Husain nafa’allahu bihi berkata :

“Sesunguhnya apa yang terdapat di dalam mudzakkarat ini adalah omong kosong belaka dan ucapan yang tidak berlandaskan dalil sama sekali, yang tidak keluat melainkan dari dua jenis manusia, yaitu :

1.      Orang yang bodohnya sangat bodoh sekali dan dungu yang tidak mampu membedakan mana telapak tangannya dan mana sikunya

2.      Para pengekor hawa nafsu, ahlul bid’ah yang memusuhi dakwah tauhid.

Maka bertakwalah! Sesungguhnya daging para ulama itu beracun dan sunnah Allah di terhadap para pencela ulama telah diketahui, maka barangsiapa yang berkata buruh terhadap ulama dan mencercanya, maka niscaya Alloh akan menimpakan kematian hatinya sebelum wafatnya. Kita memohon perlindungan dan keselamatan dari Alloh.”[31]

 

Hakikat Sikap Pemerintah Eropa terutama Inggris terhadap Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

 

Beberapa sosok syetan berwujud manusia dari orang-orang eropa berfikir tentang akibat yang akan menimpa mereka, jika Dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab yang didukung pemerintahan Su’ud pertama memperluas pengaruhnya. Mereka melihat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah Su’ud akan mengancam kepentingan mereka di kawasan timur secara umum. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan pemerintahan ini. Mereka pun menempuh berbagai daya dan upaya di dalam menghancurkan dakwah salafiyah ini, diantaranya adalah :

Pertama, penebaran publik opini di tengah negeri Islam melawan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Maka bangkitlah para penganut bid’ah dan khurofat memerangi dakwah Syaikh. Mereka adalah golongan mayoritas di saat itu, yang mana faham quburiyun, khurofiyun, bid’ah dan syirik telah mendarah daging di dalam hati mereka, bahkan parahnya kesultanan Ustmaniyah generasi akhir adalah termasuk pemerintahan yang mendukung kesyirikan dan kebid’ahan ini. Ini semua terjadi setelah Inggris dan Perancis menyebarkan fatwa yang mereka ambil dari Ulama suu’ (jahat) yang menfatwakah bahwa apa yang didakwahkan oleh Syaikh al-Imam adalah rusak.[32]

 

Kedua, Mereka menebarkan fitnah antara gerakan Syaikh al-Imam dengan pemimpin kesultanan Utsmaniyah. Orang-orang Inggris dan Perancis menebarkan racun ke dalam fikiran Sultan Mahmud II, bahwa gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertujuan untuk memerdekakan Jazirah Arab dan memisahkan diri dari kesultanan. Sultan pun merespon dan berupaya memberangus gerakan Syaikh, padahal seharusnya beliau meragukan nasehat dari kaum kuffar ini, meneliti dan melakukan investigasi terhadap berita ini.[33]

 

Sesungguhnya para pengikut Dakwah Salafiyah tidak pernah menuntut khilafah sama sekali dan tidak pernah menyatakan penentangan bahwa dirinya tidak tunduk kepada kesultanan. Namun sesungguhnya, perselisihan itu hanyalah ada dalam dua hal yang asasi, yaitu : pertama, permintaan para pengikut gerakan salafi tentang adanya keharusan untuk komitmen para jama’ah haji dalam berpegang teguh dengan manhaj Islam dan mencabut semua yang keluar dari manhaj Islam. Kedua, adanya perasaan pemerintah Utsmaniyah yang merasa tidak berdaya di hadapan kekuasaan gerakan Wahhabi atas kota-kota suci yang berada di Hijaz. Sebab mereka tahu bahwa ketidakmampuan mereka ini berarti penurunan wibawa dan posisi mereka secara politik.[34]

 

Sesungguhnya, Inggris dan Perancis mulai dari awal telah membenci gerakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, terlebih setelah pemerintah Alu Su’ud beserta orang-orang Qowashim mampu melakukan serangan telak terhadap Armada Inggris pada tahun 1806 M. sehingga perairan Teluk berada di bawah kekuasaannya.[35] Sesungguhnya asas-asas Islam yang murni menjadi pondasi dasar pemerintahan Su’ud pertama, dan tujuan utama didirikannya negeri ini adalah untuk melawan kejahatan orang-orang asing di kawasan itu.[36]

 

Bukti berikutnya yang menunjukkan bahwa tuduhan Zallum dan HT terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah tuduhan dusta belaka, adalah : Tatkala Ibrahim bin Muhammad Ali Basya[37] berhasil menghancurkan Dir’iyah dan menghukum pancung pangeran Abdullah bin Su’ud, Inggris mengutus Kapten George Forester Sadleer[38] untuk memberikan ucapan selamat kepada Ibrahim Pasya dan mengajukan kerjasama antara kekuasaan darat Ibrahim Pasya dengan kekuatan laut armada Inggris dalam rangka menghadapi Qowasim yang merupakan pengikut dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab.[39]

 

Sungguh, sangat jauh panggang dari api apabila dikatakan bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab adalah dakwah boneka atau antek-antek Inggris. Padahal dengan menyebarnya dakwah mubarokah ini ke pelosok dunia lain, melahirkan para pejuang-pejuang Islam. Di India, Syaikh Ahmad Irfaan dan para pengikutnya adalah gerakan yang pertama kali membongkar kebobrokan Mirza Ghulam Ahmad Qadiyaniyah yang semua orang tahu bahwa Qodiyaniyah ini adalah kepanjangan tangan dari kolonial Inggris. Mereka juga memekikkan jihad memerangi kolonial Inggris saat itu di negeri mereka.[40] Di Indonesia, tercatat ada Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Nan Gapuk dan selainnya yang memerangi bid’ah, khurofat dan maksiat kaum adat sehingga meletus perang Paderi, dan mereka semua ini adalah para pejuang Islam yang memerangi kolonialisme Belanda.[41] Belum lagi di Mesir, Sudan, Afrika dan belahan negeri lainnya, yang mana mereka semua adalah para pejuang Islam yang membenci kolonialisme kaum kafir eropa.

 

Wahai Hizbut Tahrir!!! Bacalah buku-buku dan risalah karangan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, niscaya engkau akan mengetahui hakikat dakwah ini, dan engkau akan faham hakikat perjuangan dakwah ini.

 

Penyebab keruntuhan Daulah Utsmaniyah yang tidak difahami oleh Hizbut Tahrir

 

Abdul Qodim Zallum ghofallahu lahu di dalam buku Kaifa Hudimatil Khilaafah, ketika menelaah sebab-sebab keruntuhan Daulah Utsmaniyah hanyalah dari aspek eksternal yang kosong dari tinjauan kaca mata al-Qur’an dan as-Sunnah. Dia hanya menelaah konspirasi kaum kuffar dan upaya-upaya mereka di dalam menghancurkan Daulah, tanpa menganalisa dengan kaca mata wahyu, mengapa daulah Utsmaniyah bisa hancur?!! Seharusnya dia tidak hanya menelaah كيف هدمت الخلافة (Bagaimana Hancurnya Daulah Khilafah), Namun seharusnya dia menelaah juga لماذا هدمت الخلافة (Mengapa daulah Utsmaniyah bisa hancur)?!!

 

Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman :

هو الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At-Taubah : 33)

Bukankah ayat di atas merupakan janji Alloh Subhanahu wa Ta’ala bahwa agama ini akan dimenangkan atas agama-agama lainnya?!!

 

Bukankah orang-orang kafir mulai dari zaman rasul pertama kali diutus hingga hari kiamat senantiasa membenci dan tidak ridha dengan agama ini, mereka akan senantiasa memerangi dan memadamkan cahaya agama Alloh, sebagaimana dalam firman-Nya :

و لن ترضى عنك اليهود و لن النصارى حتى تتبع ملتهم

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al-Baqoroh : 120)

 

يريد الله أن يطفئوا نور الله بأفواههم و يأبى الله إلا أن يتم نوره ولو كره الكافرون

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (At-Taubah : 32)

 

Sesungguhnya sebab-sebab keruntuhan pemerintahan Utsmani sangatlah banyak, yang kesemuanya tersimpul pada semakin menjauhnya pemerintahan Utsmani terhadap pemberlakuan syariah Alloh yang menyebabkan kesempitan dan kesengsaraan bagi ummat di dunia. Dampak dari jauhnya pemerintahan Utsmani dari Syariah Alloh ini tampak sekali dalam kehidupan yang bersifat keagamaan, sosial, politik dan ekonomi.[42]

 

Alloh Ta’ala berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur : 55)

 

Daulah Utsmaniyah di awal pemerintahannya memenuhi semua syarat-syarat yang termaktub di dalam ayat di atas. Sebaliknya, di akhir pemerintahannya syarat-syarat itu sama sekali tidak terpenuhi dan menyimpang dari pemahamannya yang asli. Ada beberapa hal yang menyebabkan runtuhnya daulah Utsmaniyah[43] yang tidak disinggung oleh Hizbut Tahrir, yaitu :

  1. Tidak adanya al-Wala’ (Loyalitas) dan Baro’ (Disloyalitas) yang jelas pada akhir-akhir masa daulah Utsmaniyah. Para penguasa Utsmaniyah terbius dengan budaya dan pemikiran kaum kuffar dan menjadi sekutu mereka. Muhammad Ali Pasya, wali Mesir yang menjadi contoh utama hal ini. Dia adalah boneka bikinan barat dan antek-antek mereka, keberhasilannya memegang tampuk kekuasaan di Daulah Utsmaniyah adalah keberhasilan rencana salibis.[44]
  2. Penyempitan makna ibadah. Ibadah menurut Daulah Utsmaniyah akhir hanya terbatas pada ritual-ritual yang turun temurun dan taklid yang tidak memiliki faidah dan dampak terhadap kehidupan. Hal ini menyebabkan maraknya madzhab sekuler dalam pemerintahan Utsmani yang semakin marak pada akhir-akhir keruntuhannya.[45]
  3. Menyebarnya fenomena syirik, bid’ah dan khurofat. Sisi inilah penyebab kemunduran utama Daulah Utsmaniyah. Mereka terjebak dalam belenggu kebodohan dan kesyirikan, dan mereka meninggalkan tauhid murni yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Mulai dari sultan, pembesar hingga rakyat kecil terbelenggu oleh bid’ah, syirik dan khurofat. Pembangunan kubah-kubah kuburan di seluruh wilayah Utsmani mereka lakukan dengan berlomba-lomba membangun yang paling megah. Bahkan mereka pun bernadzar pada makam-makam dan peninggalan nene moyang mereka. Risalah al-Qoul al-Anfa’ fir raddi ‘an Ziyaraatil Mifdaa’ karya Al-Allamah Mahmud Syukri al-Alusi menjadi saksi atas faham sesat mereka yang bernadzar dan bertabaruk dengan meriam peninggalan Sultan Murad. Bid’ah-bid’ah dan khurofat menjamur dimana-mana, sehingga yang sunnah dianggap bid’ah dan yang bid’ah dianggap sunnah. wal’iyadzubillah.[46]
  4. Gencarnya aktivitas kelompok-kelompok sesat dan menyimpang seperti Syi’ah Isna Asyariyah, Druz, Nushairiyah, Shufiyah, Qadhiyaniyah, dan selainnya. Sesungguhnya kelompok-kelompok sesat inilah yang menjadi tanggung jawab hancurnya kesatuan Daulah Utsmaniyah dan mereka adalah seringala berbulu domba yang harus diperangi dan dijelaskan kesesatannya.
  5. Tidak adanya pemimpin Robbani.
  6. Penolakan dibukanya pintu ijtihad.
  7. Menyebarnya kezhaliman dalam pemerintahan.
  8. Perselisihan dan perpecahan.

 

Inilah sebab-sebab yang tidak diperhatikan oleh Hizbut Tahrir yang merupakan penyebab utama hancurnya Daulah Utsmaniyah. Mereka hanya berkoar-koar seputar konspirasi kaum kuffar dan munafiq, tanpa menelaah penyebab “Mengapa Daulah Utsmaniyah bisa dikalahkan dan dihancurkan oleh konspirasi kaum Kuffar dan Munafiq”!!!, “Mengapa kaum muslimin kalah melawan agresi kaum kuffar?!!” dan “mengapa agama yang telah dijanjikan oleh Alloh kemenangan ini menjadi kalah dan terbelakang di antara agama-agama lainnya?!!”

 

Inilah yang tidak mampu mereka jawab, melainkan mereka akan mencari kambing hitamnya. Hizbut Tahrir adalah kelompok yang turut menyuburkan faham quburiyun, khurofiyun, bid’iyun dan shufiyun[47], sehingga mereka tidak akan ridha dan rela terhadap dakwah tauhid yang dibawa oleh Imam Muhammad