SARANG LEBAH DAN KEAJAIBAN AL‑QUR’AN
Abd Al‑Mun’im AI‑Hefni(*)
(*) Guru besar masalah lebah dan
serangga Fakultas Pertanian, Universitas Al-Azhar, Mesir dan Fakultas Observasi
Lingkungan Pertanian daerah kering, Universitas King Abdul Aziz, Kerajaan Saudi
Arabia.
Ayat‑ayat tentang lebah dalam
Al‑Qur'an Al‑Karim tidak lain adalah rentetan petunjuk tentang
keajaiban ilmiah. Mukjizat Al‑Qur'an masih terus
dikisahkan dan ilmu dari waktu ke waktu menyingkapkan kepada kita tentang
berbagai mukjizat tersebut. Maha benar Allah dengan firman-Nya:
‑Nya:
"Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tentang bukti‑bukti kebesaran kami dan dalam diri mereka
sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Al‑Qur'an adalah
kebenaran."(QS 41:53)
“Kami telah menurunkan kitab kepadamu yang
menjadi penjelasan terhadap segala sesuatu, rahmat dan kabar gcmbira untuk umat
Islam" (QS 16:89).
. Fakta
dan ayat‑ayat ini betul‑betul diyakini oleh para pendahulu kita dan
ilmu menyingkapkan kepada kita salah satu segi keajaiban ilahi dan keajaiban Al‑Qur'an dalam ayat‑ayat ini. Auf bin Malik bin Abi Auf al‑Asyja`i r.a. telah beriman dengan Al‑Qur'an
Al‑Karim dan dengan semua yang dibawanya. Diriwayatkan, bahwa ketika pada
suatu waktu ia sakit kepadanya ditanyakan, apakah ia akan dirawat, Ia menjawab:
"Beri saya air
karena Allah telah berfirman: "Dan kami telah menurunkan air yang banyak
manfaatnya dari langit ...... “(QS 50:9). Beri saya madu karena Allah SWT telah
berfirman: "…Di dalamnya terdapat kesembuhan untuk manusia…” (QS
16:69).
Kemudian ia mengatakan supaya diberi minyak zaitun karena
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Dari pohon zaitun
yang banyak manfaatnya.” (QS 24:35)
Semua permintaannya ini lalu dikabulkan. Ia mencampurkan semua
itu dan meminumnya, lalu ia sembuh. Di dalam Al‑Qur'an Al‑Karim
yang oleh banyak orang dipelihara dalam dada, di samping yang ada di depan kita
sekarang, banyak terdapat kebaikan.
Barangkali permulaan. yang lebih baik adalah dengan memulai pembicaraan
tentang tempat tinggal atau sarang lebah. Allah SWT menyebutkan tentang lebah
dalam. Al‑Qur'an Al‑Karim:
"Kami memberitakan
kepada lebah supaya kamu. mengambil tempat tinggal dari bukit, dari pohon dan
dari apa yang mereka bangun." (QS 16:68).
Dalam kehidupan dan tempat tinggal jenis lebah secara umum dan
lebah madu secara khusus terdapat bukti yang paling agung atas kemampuan dan
keluasan ilmu Allah SWT melalui keajaiban ilmiah yang dikemukakannya dalam Al‑Qur'an
Al‑Karim.
Berbagai saintis telah mengkaji kehidupan tingkah laku dan tempat
lebah madu. Di antara mereka adalah Butler (1954), Snodgrass (1956), Wafa
(1963), Root (1974), Abd al‑Lathif dan Abu an‑Naja (1974),
Perusahaan penerbitan Dadant (1975), Crane (1975,1977,1980,1990), Crane dan
Graham (1985), al‑Hamashi (1979), Morse (1980), al‑Bambi (1989),
Abd as‑Salam (1990) dan al‑Hefni (1994).
Sedangkan mengenai jenis‑jenis lain dari lebah yang
bukan penghasil madu, yaitu jenis‑jenis yang suka menyendiri atau semi
mengelompok, maka kecenderungan. yang ada sekarang adalah untuk mempelajari dan
mengetahui informasi lebih banyak lagi tentang hal ini. Sejarah fisika dan
kebiasaan membuat sarang dari lebah yang suka menyendiri telah menarik perhatian
banyak peneliti bidang ilmu kehidupan serangga. Di antara mereka adalah Fabrc
(1879‑1907) dan Rcaumur (1942). Sedangkan keeenderungan dalam sejarah
ilmu hayat ini telah sampai ke tingkat atas dalam pengkajian‑pengkajian
yang dilakukan oleh Malyshev (1936). Juga banyak sains yang telah mempelajari
tingkah laku membuat sarang lebah penyendiri antara lain seperti yang dilakukan
oleh Linsley (1952‑1955), Hobs (1956), Linsley (1958), Linsley dan Hurd
(1959), Krombein (1967), Mazed (1967), Elbery (1968), Stephenel (1969), Allam
(1972), al-Hefni (1974), Miehenes (1974) dan al‑Badawi (1976). Semoga
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada kita dan kepada semua orang
untuk melakukan penelitian lanjut dalam bidang ini sehingga mukjizat
(keajaiban) ilmiah dalam AlQur'an dan As‑Sunnah dapat dicakup seluas
mungkin.
Metode Penelitian
Lebah dengan komposisi, tabiat tingkah laku dan proses
kelahirannya merupakan salah satu bukti kebesaran Allah dalam lembaran alam
yang bisa diselidiki dengan pengamatan teliti melalui mata telanjang dan penemuan-penemuan
ilmiah sepanjang sejarah. Namun segi keajaiban ilmiah Al-Qur’an dalam bidang ilmu
tentang lebah dan tempat tinggalnya adalah bahwa nuansa ayat Al‑Qur'an
yang dibaca dan didengarkan telah membawa isyarat-isyarat dan petuniuk‑petunjuk
yang dibuktikan oleh ilmu akhir-akhir ini melalui pengamatan‑pengamatan
teliti dan penyingkapan-penyingkapan teoritis empiris (telah disebutkan
sebelumnya) yang masih saja menjadi tanda tanya di kalangan ilmuwan tentang
serangga atau lebah dari hari ke hari.
Penelitian ini adalah sebuah usaha sederhana dari penulisnya untuk
bersaham dalam bidang ini dengan upaya kecil. Jika ada yang benar, maka itu
adalah dari Allah dan bila ada yang salah maka ia adalah dari penulis sendiri.
Berdasarkan itu, maka penelitian ini secara. khusus adalah
usaha untuk menyingkapkan keajaiban. ilmiah Al‑Qur'an dalam ayat 68 surat
an‑Nahl dan bertujuan menguraikan petunjuk‑petunjuk yang dibicarakan
oleh kitab‑kitab tafsir, hadits dan leksikon bahasa tentang ayat ini. Penelitian
ini juga menguraikan hal‑hal yang diungkapkan oleh percobaan‑percobaan
dan penelitian-penelitian dalam bidang ini. Pengetahuan. tentang ini mendukung,
menafsirkan dan merinci keterangan ringkas yang diberikan oleh ayat‑ayat
Al‑Qur'an yang antara lain menegaskan bahwa Al‑Qur'an dengan
seluruh ayatnya betul‑betul berasal dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana,
Maha Mengetahui yang diturunkan melalui malaikat Jibril terpercaya ke dalam hati
pemimpin dari orang‑orang terdahulu dan belakangan melalui bahasa Arab
yang jelas, sejak lebih kurang seribu lima ratus tahun yang lalu.
Hal‑hal yang disebutkan tentang lebah madu dalam
penelitian ini sesungguhnya adalah hasil pengalaman pergumulan yang lama sekali
dengan berbagai kelompok lebah madu dan. pengamatan terus‑menerus
terhadap ilham ilahi kepada makhluk yang diberi berkat ini serta tingkah
lakunya sebagai kelompok yang individu‑individunya saling membantu, Ia
juga merupakan hasil rujukan kepada penelitian dan berbagai referensi dalam
bidang ini.
Bahasa ini ditulis dengan metode yang memungkinkan pembaca
menguasainya dengan baik serta menghubungkan antara berbagai sisinya. Karena.
itu, maka dasar penulisan dijadikan sebagai unsur‑unsur yang merupakan
kerangka umum permasalahan. Unsur‑unsur itu adalah:
1. Ayat‑ayat
an‑Nahl ini serta posisinya dari sudut aqidah.
2. Dunia lebah.
3.
Pemahaman kata dan dilalah (petunjuk; indikasi) wahyu.
4.
Hubungan manusia
dengan. permasalahan. lebah dan permasalahan aqidah.
5.
Pemahaman kata an‑Nahl
serta indikator‑indikatomya.
1. Ayat‑Ayat
tentang Lebah dan Posisinya dari segi Aqidah
Seperti diterangkan dalam tafsir Fi Zhilalil Qur 'an, ayat surat an‑Nahl diturunkan di Mekah
yaitu ayat yang membahas masalah aqidah dan topik-topik besamya berhubungan
dengan masalah keTuhanan, wahyu dan kebangkitan. Topik topik ini ditampilkan
dalam konteks ayat‑ayat al-kauniyyah
(tentang alam) sehingga memperjelas keagungan penciptaan, keagungan nikmat dan keagungan
ilmu serta pengamatan. Semua itu saling bertautan dalam keselarasan yang dapat
diamati di antara berbagai bentuk, sorotan, ungkapan ritme, kasus dan topik. Secara
keseluruhan ia memiliki ritme yang tenang dan irama yang biasa, tetapi penuh
dengan nuansa. la menghimpun seluruh alam ini: langit dan bumi, matahari dan
bulan, siang dan malam, gunung dan laut, perbukitan dan sungai, naungan dan
keteduhan, tumbuh‑tumbuhan dan buah‑buahan, hewan dan burung. la
juga menghimpun antara dunia dan akhirat, rahasia dan keghaiban. Semua itu
adalah melatih otak, nurani dan diri manusia serta mengetuk manusia pada semua tingkatan
persepsi dan ilmunya dengan susunan bahasa yang tenang dan halus di mana tidak
terdapat suara berdengking, seperti ditemukan pada surat al‑Anam dan ar‑Ra'd
misalnya. Tetapi dengan ketenangannya menyentuh semua segi batin dan fisik
dalam wujud manusia. la menuju kepada otak yang sadar seperti juga menuju kepada
perasaan yang intuitif. Ia sesugguhnya menggugah mata supaya melihat, telinga
supaya mendengar, perasaan supaya merasa, intuisi supaya tersentuh dan otak
supaya mengamati. Seorang insan berakal setelah itu tidak lagi memiliki sikap
selain menyerahkan diri dan beriman dengan penuh ketaatan.
Ayat‑ayat surat an‑Nahl ini membicarakan rahasia
fakta ilmiah yang tidak disingkapkan kecuali pada masa‑masa terakhir ini
saja. Di dalamnya mengandung bukti‑bukti wahyu dari Allah tentang
keistimewaan‑keistimewaan lebah bagi orang yang memahaminya dan ilmuwan
yang spesialis yang menghargainya sehingga ilmuwan pendebat yang fanatik,
apalagi yang bukan ilmuwan, tidak lagi mempunyai alasan untuk mendebat. Secara
umum ini saja sudah cukup karena ia memantulkan segi keajaiban ilmiah Al‑Qur'an
dalam topik ini (yaitu topik "Lebah serta tabiat dan tingkah lakunya”).
2. Dunia Lebah
Betul penyebutan lebah dalam sejumlah ayat Al‑Qur'an dengan
sebutan teliti yang merinci tentang tabiat tingkah laku dan produksinya, kemudian
penamaan sebuah surat dengan nama an‑Nahl (lebah) tidak hanya menunjukkan
penghormatan terhadap lebah sekedar sebuah isyarat dan bukti kemukjizatan
belaka. Hal itu karena beberapa pertimbangan. Pertama, keterdahuluan Al-Qur'an dalam menyebutkan beberapa rincian
tentang dunia lebah dan tempat tinggalnya, sekalipun diketahui pada masa wahyu
diturunkan, namun ia tidak dipahami dengan pemahaman mendalam seperti yang
dilakukan oleh manusia kontemporer hari ini. Kedua, dunia lebah itu luas yang penuh fakta ilmiah yang tabiat
aslinya tidak mungkin disingkapkan sepanjang waktu dan ia mampu sepanjang fase
sejarah sebagai bahan untuk meyakinkan kebenaran agama ini dan inilah segi lain
keajaiban ilmiah Al‑Qur'an dalam bidang dunia lebah.
Betul dunia lebah itu luas dan besar. Dari segi kegiatan lebah
maka semua individu lebah mengetahui benar kewajibannya dan melaksanakannya
dengan cara terpadu yang sangat baik bersama individu‑individu lain dalam
kelompok. Alat‑alat pengaturan dan pengontrolan itu tertanam dalam fitrah
yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada diri lebah. Setiap individu
bekerja untuk kelompok karena itu masyarakat lebah ini kelihatan seperti sebuah
sosok tubuh bahkan sebuah umat atau bangsa.
"Tidak ada yang melata di bumi atau pun yang terbang dengan kedua
sayapnya, kecuali ia adalah umat (bangsa) seperti kamu....”(QS 6:38).
Maha suci Allah, Maha Pencipta berfirman pula:
"Maha suci Tuhan kami yang memberikan karunia kepada segala
sesuatu yang diciptakan‑Nya, kemudian menunjukinya." (QS 20:50).
Ayat‑ayat khusus tentang lebah tidak lain dari satu
rentetan bukti keajaiban ilmiah yang dimulai dengan firman‑Nya:
"Tuhanmu mewahyukan kepada lebah ...” (QS 16:68).
3. Pengertian dan
Indikasi kata Wahyu
Banyak mufassir yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan wahyu
pada ayat"Kami mewahyukan kepada
lebah" adalah ilham, petunjuk
dan pengajaran. Asy‑Syaikh Abu
Ali Al‑Fadhal bin Al‑Hasan dalam tafsimya menambahkan bahwa itu
dikatakan, dijadikan dalam gharizah (instink)nya
yang tidak diketahui oleh yang lain. Wahyu dalam bahasa Arab mempunyai beberapa
segi antara lain berarti kenabian
(ramalan), ilham, isyarat petunjuk
dan rahasia. Dalam pengertian
kenabian adalah seperti pada firman‑Nya:
"... dan la
mengutus Rasul. lalu la mewahyukan (membuatkan) apa yang dikendakinya dengan
izin‑Nya." (QS 42:51)
la adalah dalam pengertian ilham pada firman‑Nya:
"Tuhanmu mewahyukan (memberi ilham) kepada lebah…” (QS. 42:51) (QS
16:68).
”Kami mewahyukan(memberi ilham) kepada ibu Musa ... “(QS 28:7).
Dalam pengertian isyarat petunjuk dalam firman‑Nya:
"Lalu la mewahyukan (memberi
isyarat petunjuk) kepada mereka supaya mereka bertasbih." (QS 19:11).
Mujahid mengatakan bahwa pengertian adalah "Memberi isyarat petunjuk kepada mereka”.
Adh‑Dhahak mengatakan bahwa maksudnya adalah "dituliskan (ditetapkan) untuk mereka." Dalam pengertian
rahasia:
"....Mewahyukan (merahasiakan) sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa kata “(QS 6:112).
Asal kata wahyu
dalam pemahaman orang Arab adalah bahwa seseorang menyampaikan sesuatu kepada temannya
secara sembunyi‑sembunyi dan tertutup. Dikatakan auhalahu wa auha ilaihi "diwahyukan untuknya atau diwahyukan
kepadanya” adalah dengan pengertian bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengilhamkan
kepada lebah supaya mengambil rumah, tempat tinggal, sarang dan tempat kediaman
di bukit‑bukit, pohon‑pohon dan lain‑lain.
Kesimpulannya wahyu
dipakaikan untuk para Nabi seperti dalam firmanNya:
"Allah tidak mungkin
berkomunikasi dengan manusia kecuali melalui wahyu atau di balik tabir atau
mengutus seorang Rasul dengan izin‑Nya kepada slapa yang dikehandaki‑Nya" (QS 26:51).
Mari kita perhatikan kalimat auha (mewahyukan). Wahyu itu bisa berarti ilham untuk selain Nabi
dan Rasul seperti dalam firman‑Nya:
"Kami mewahyukan
(mengilhamkan) kepada lbu Musa…” (QS 28:7).
Barangkali juga berarti ilham kepada binatang seperti pada
firman‑Nya:
"Tuhanmu mewahyukan
(mengilhamkan) kepada Lebah..." (QS
16:68).
Barangkali pula wahyu itu berarti Perintah dan izin, khususnya
bila kata itu, digunakan bersama benda padat, seperti Firman Allah dalam surat
al‑Zalzalah ketika membicarakan tentang bumi:
"...bahwa Tuhanmu mewahyukan kepadanya."
Maksudnya mengizinkan kepadanya dan memerintahkan. Jelaslah
bahwa yang dimaksud dengan wahyu dalam firman Allah:
"Tuhanmu mewahyukan
kepada lebah..." (QS 16:68).
Bahwa Allah SWT memberi ilham dan petunjuk.kepada kelompok
lebah supaya membuat rumah yang dapat melindungi mereka beserta anak‑anak
mereka di bukit‑bukit dan di pohon‑pohon dan juga di tempat‑tempat
yang didiami manusia. Pengertian ilham Allah kepada lebah adalah ia menetapkan
dalam dirinya dan menciptakan dalam gharizah‑nya
supaya melakukan perbuatan-perbuatan menakjubkan yang telah membingungkan otak
manusia ini, di mana sarang‑sarang ini dibangun di bukit‑bukit
atau, pohon‑pohon atau tempat‑tempat yang digunakan manusia sebagai
tempat tinggal.
4. Hubungan Manusia
dengan Masalah Lebah dan Masalah Aqidah
Menarik perhatian
bahwa al‑khithab (pesan) di sini dengan menggunakan dhamir al‑mukhathab (kata ganti orang kedua) "kamu” (kaf) yaitu rabbuka (Tuhanmu). Ayat suci tidak menggunakan kalimat wa auhallahu
ila an-nahl "Allah mewahyukan
kepada lebah" atau wa auhaina ila an‑nahl "Kami
mewahyukan kepada lebah". Namun ayat suci ini berbunyi: auha
rabbuka ila an-nahl "Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah" (QS 16:68).
Orang kedua. di sini
adalah Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang mewakili kepribadian manusia yang
demi ia dan kemanfaatannya Al‑Qur'an telah diturunkan. Dalam hal ini ada
petunjuk besar bahwa terdapat hubungan antara manusia yang dituju pada pesan
Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hal‑hal yang dijanjikan kepada lebah berupa
tabiat dan pekerjaan yang dilakukannya melalui ilham dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Hubungan ini tidaklah langsung. Kata kaf (kamu) sebagai orang
kedua menunjukkan pertalian Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada Tuhannya
sebagai.pemuliaan dan penghormatan. Pemuliaan itu adalah sebagai akibat yang ditimbulkan
oleh Iman Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam (setelah beliau adalah umat
beliau) terhadap ayat yang diwahyukan oleh Allah dalam kitab-Nya (di sini
adalah ayat‑ayat surat an‑Nahl).
5. Pengertian an‑Nahl
An‑Nahl
(lebah) di sini tidak lain dari makhluk yang mendapat berkat yang dimuliakan
Allah, yang mendapat wahyu dan ilham‑Nya sehingga ia dapat menempuh jalan
hidupnya. Dalam Lisan Al‑Arab,
an‑Nahl (bentuk mufradnya/tunggalnya an‑Nahlah) adalah serangga penghasil madu. Abu Ishaq az‑Zujaj
mengatakan tentang firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi: " Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Boleh
jadi dinamakan nahl (lebah) karena Allah Azza wa jalla menjadikan manusia
mengambil madu yang keluar dari perutnya (dengan pengertian Allah memberikan kepadanya).
Pendapat yang lain mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Arab. An‑Nahl
dapat dipandang sebagai mudzakkar (maskulin)
dan sebagai mu’annats (feminin). Ia
dijadikan Allah sebagai kata mu’annats
pada firman‑Nya anittakhidziy min al jibaal buyuutan
"Supaya kamu (feminin) mengambil tempat tinggal di gunung‑gunung…”
Orang yang memandangnya sebagai mudzakkar
karena lafaznya adalah mudzakkar
(nahl) dan orang yang memandangnya sebagai mu’annats
karena ia adalah kata jamak dari nahlah.
Dalam hadits riwayat Ibnu Umar disebutkan:
"Perumpamaan orang
beriman adalah seperti lebah. Bila ia makan, maka ia makan yang baik dan bila
jatuh, maka ia jatuh atas yang baik."
Riwayat terkenal
menyebutkan bahwa ia dibaca dengan al‑halal‑mu’jamah,
yaitu sebagai kata mufrad dari nihal
(agama‑agama). Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa ia dibaca dengan al-ha'al‑muhmalah (Nahl) untuk
menunjukkan madu lebah. Segi kesamaan antara keduanya adalah ketelitian dan
kejelian lebah, bahayanya yang sedikit, keahlian, kegunaan, keberdikarian dan
usahanya di malam hari, kebersihannya dari kotoran dan makanannya yang baik. Ia
tidak makan dari usaha orang lain."Kesetiaan dan ketaatannya kepada
pangerannya."
Disebutkan dalam beberapa
tafsir bahwa an‑nahal (dengan ha’ berbaris di atas) dinamakan demikian
karena Allah memberikan (nahalahu)
madu yang keluar dari tubuhnya. An‑Nahl menurut logat penduduk Hejaz dipandang
sebagai kata mu’annats dan setiap
kata jamak di mana antara kata jamak dan mufradnya tidak dibatasi selain oleh al‑ha’. Disebutkan juga bahwa
lebah itu ada dua jenis. Satu jenis hidup di gunung‑gunung dan hutan‑hutan
yang tidak terbiasa dengan manusia dan jenis satu lagi hidup di rumah‑rumah
penduduk dan sudah terbiasa dengan manusia.
Sains modern telah
menjelaskan dan menegaskan semua ini. Terbukti dari pengkajian dan penelitian
yang dilakukan oleh para saintis dalam bidang ini bahwa kata an‑Nahl (lebah) yang dimaksud
adalah kata umum yang mencakup, banyak jenis. Kata ini dipakai untuk semua
serangga yang kerjanya mengumpulkan saripati bunga (nektar) dan bibit pembuahan.
Serangga ini beserta anak-anaknya mengambil makanan dari saripati ini dan
tubuhnya dialiri oleh berbagai pembuluh kecil.
Jenis‑jenis Lebah
Dari segi pertumbuhannya,
yaitu cara hidup yang dijalaninya, jenis‑jenis lebah yang termasuk dalam
keluarga lebah dapat digolongkan kepada tiga kelompok (Malysehev 1936).
a.
Lebah Penyendiri atau Liar (Solitary or Wild Bees)
Lebah ini berbagai jenis yang dapat dibedakan karena setiap
lebah betinanya mempunyai ciri dapat membangun sarangnya (yang terdiri dari
satu sel atau lebih) serta melengkapi dengan segala kebutuhannya tanpa
tergantung atau meminta bantuan kepada individu‑individu yang lain dari
jenis yang sama, tetapi ia tidak memelihara anaknya. Karena itu kehidupan antara individu-individu lebah ini adalah
tanpa. pekerjaan tertentu dan tanpa pembagian pekerjaan di antara mereka. Lebah
penyendiri hidup sendiri‑sendiri dan dua individu tidak bertemu kecuali
pada masa perkawinan, antara jantan dan betina yang berlangsung dalam waktu
singkat. Segi penting dari jenis‑jenis lebah penyendiri ini adalah
mengawinkan berbagal tumbuhan dan karena ini ia juga dinamakan sebagai lebah
darat.
b. Lebah
Bermasyarakat (Social Bees)
Jenis ini hidup di
bawah kondisi‑kondisi yang cocok dan keadaan‑keadaan biasa di tempat‑tempat
berkumpul yang mempunyai jumlah hampir bersamaan. Kegiatan individu dalam
kelompok ini secara keseluruhan dikerahkan untuk melayani semua individu. Semua
jenis lebah bermasyarakat melakukan penggudangan makanan di sarang‑sarangnya
untuk memberi makan anak‑anak dan seluruh anggota masyarakat lebah. Makanan
itu disimpan di sel‑sel khusus tempat penyimpanan. Di dalamnya ia membangun
sumur‑sumur dan tempat penyimpanan makanan. Umur dari ratu jenis lebah
ini lebih panjang dari umur lebah penyendiri betina karena tugas khususnya
menghasilkan telur dan para pekerja lebah melakukan perawatan terhadap ratu
ini.
c. Lebah Kekanak‑kanakan
(ath‑Thufaili)
Lebah jenis ini
tidak membuat sarang sendiri dan tidak pula menyimpan makanan tetapi menempatkan
telur‑telumya di sel lebah jenis penyendiri atau lebah jenis
bermasyarakat. Dengan demikian bibit‑bibitnya mendapat makanan dari usaha
orang lain sehingga akhirnya muncul serangga lengkap yang terdiri dari jantan
dan betina.
Sarang dan Tempat TInggal Lebah
Firman Allah
menyebutkan:
"Supaya kamu mengambil rumah (tempat tinggal) di bukit‑bukit,
di pohon‑pohon dan di mana mereka tinggal."
Kebanyakan ahli tafsir sepakat mengatakan bahwa Allah SWT
telah menciptakan lebah dan menjadikan rumah‑rumahnya di bukit‑bukit,
di pohon‑pohon kayu, di atap‑atap atau dinding‑dinding rumah
dan lain‑lain. Sarang lebah dinamakan rumah adalah karena lebah mempunyai
cara hidup menakjubkan yang dikendalikan pencipta‑Nya secara teliti dan
rapi yang membingungkan otak manusia. Ia kadang‑kadang juga dinamakan awkar (kata jamak dari wakr), yang Juga berarti sarang atau tempat
tinggal. Asal-usul rumah adalah untuk tempat tinggal manusia dan kata wakr digunakan di sini untuk tempat
tinggal yang dibangun lebah sehingga ia dapat mengeluarkan madunya, yang mirip
dengan rumah buatan manusia karena adanya perencanaan yang baik dan pembagian
yang benar. Kalimat wa min asy‑syajari wa mimma ya’risyun "di pohon-pohon dan di tempat‑tempat
yang mereka tinggikan” berarti chrome
yang ditinggikan atau ditempatkan di tempat tinggi oleh manusia, seperti
diriwayatkan oleh Ibnu Zaid dan lain‑lain. Ia berarti atap, seperti
diriwayatkan oleh ath‑Thabari dan lain‑lain. Oleh sebagian ahli
tafsir kata min (dari) dalam ayat di
atas berati min tab'idh (di antara,
antara lain, termasuk). Sesuai individu-individu dan bagian‑bagiannya,
maka lebah tidaklah membuat tempat tinggal pada setiap pohon, bukit dan tempat
yang ditinggikan. la tidak membuat tempat tinggal pada setiap tempat yang
disebutkan tersebut. Tafsiran rumah dengan apa. yang dibangun oleh lebah adalah
tafsiran yang dipegang oleh lebih dari seorang mufassir. Abu Hayyan mengatakan
bahwa yang dimaksud tampaknya adalah ruang‑ruang yang terbentuk di bukit‑bukit,
dalam rongga pohon, sel‑sel yang dibuat manusia untuk lebah dan ruang‑ruang
yang ada di dinding. Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa isyarat menunjukkan bahwa
rumah bukanlah ruang, tetapi tempat yang dibuat oleh lebah. Ia mengatakan: Saya
menginginkan pengertian al‑ba'dhiyyah
(di antaranya; antara lain) dan bahwa rumah‑rumah itu tidak dibuat pada
setiap bukit, pohon dan apa yang ditinggikan. Kata yarasya berarti hayya’a
(membentuk).
Sementara mufassir
mengatakan bahwa kata anittakhidziy adalah Imma
Mashdariyyah dengan takdir ba’almaalabbissaat
yaitu bi anittakhidziy "Supaya
kamu mengambil atau tafsiriyyah (menafsir)”; kata setelah itu, karena di
dalamnya dengan anggapan, pengertian maknanya yang terkenal, yaitu makna ucapan
tanpa hurufnya dan itu cukup menjadikan sebagal tafsiriyyah.
Sedangkan dalam
hubungannya dengan sains dalam bidang ini, maka firman Allah dalam surat an‑Nahl
ayat 68 tersebut, termasuk gaya bahasa tinggi (al‑balaghah) dan kemukjizatan yang menarik perhatian. Penggunaan
kalimat anittakhidziy dalam. bentuk mu’annats karena kata nahl adalah kata
benda jenis yang dapat dipandang mudzakkar
dan mu’annats. Dari segi lain
ungkapan dengan mu’annats di sini
barangkali cocok dengan tabiat kehidupan lebah. Lebah betinalah yang melakukan
segala usaha dan pekerjaan di koloni‑koloni lebah. Sedangkan lebah jantan
tidak melakukan pekerjaan selain kawin saja, yang tidak muncul kecuali
menjelang masa kawin, setelah itu ia mati dan punah.
Dalam. ayat 68 surat
an‑Nahl ada ungkapan atau petunjuk kepada tempat tinggal lebah; yaitu
topik besar yang membutuhkan uraian panjang. Bukit secara bahasa menunjukkan
dan mengandung pengertian bumi, batu granit, bukit‑bukitan, gua dan benda‑benda
yang terbentuk akibat faktor‑faktor penggundulan seperti tanah dan
seterusnya. Sedangkan pohon juga menunjukkan dan memasukkan bagian‑bagian
pohon seperti dahan, ranting, daun dan seterusnya. Begitu juga benda‑benda
yang terbikin dari kayu seperti papan dan sebangsanya.
Sedangkan yang
dimaksud dengan Wa maa ya’risyuun adalah benda‑benda yang digunakan dalam
pekerjaan membuat atap atau sarang. Tidak ada yang lebih menunjukkan akan keajaiban
ilmiah Al‑Quran dan pencakupan Al‑Qur'an terhadap semua hal yang
mungkin dilakukan oleh lebah untuk membuat tempat tinggal, seperti telah
disebutkan terdahulu.
Berdasarkan
keterangan terdahulu tentang jenis‑jenis lebah tersebut mirip dengan
manusia dalam kebiasaan membuat rumah. Satu kelompok lebah mempunyai pekerjaan
khusus dalam membangun rumah tanpa bantuan kelompok yang lain, namun
perbedaannya dengan manusia adalah hal tabiat spesialisasi ini, dimana pada
lebah merupakan instink dan pada manusia sebagai usaha berencana. Jadi tabiat membentuk
manusia (setiap individu manusia) yang berisikan kesediaan fithri (alami). Kesanggupan mendapat keahlian dalam membangun
dengan ilmu dan pengalaman bila ia menginginkannya. Sedangkan pada lebah, maka
pada semua kelompok lebah (kecuali lebah kekanak‑kanakan) terdapat sejumlah
individu khusus yang sanggup sendiri tanpa bantuan kelompok lain dalam membangun
rumah untuk melayani seluruh kelompok. Spesialisasi ini sesungguhnya berasal
dari tabiat instink yang tidak dimiliki kecuali oleh satu kelompok lebah saja. Setiap
kelompok mempunyai gaya berbeda dalam membangun rumah yang tergantung kepada
tabiat dan cara hidup serta lingkungannya. Alangkah kreatifnya ciptaan Allah
Yang Maha Bijaksana, Maha Pencipta. Benar, ini adalah bukti kebenaran Allah. Apakah
manusia tidak memikirkan dan mendalaminya?
Untuk lebih menjelaskan
hal‑hal yang diterangkan oleh sains, berikut ini adalah beberapa sorotan
atas setiap kelompok lebah yang mempunyai ciri dan perbedaan dalam sistem kehidupan
dan perbedaan tempat tinggal. Kelompok
pertama, yaitu kelompok penyendiri atau darat dan kelompok kedua, yaitu lebah bermasyarakat, mempunyai ciri dalam membuat
sarang tempat tinggalnya, sedangkan kelompok
ketiga, yaitu lebah kekanak‑kanakan, tidaklah membuat sarangnya karena
ia hidup biasanya di atas kelompok lain. Karena itu pembicaraan akan dipusatkan
pada dua kelompok pertama saja. Berikut ini adalah kajian terhadap tingkah laku
berbagai jenis lebah dalam membuat sarang.
Lebah Penyendiri atau Darat