// left:300 maksudnya adalah menunjukan posisi 300 pixel dari kiri -->
PEMBELAAN TERHADAP AL-IMAM AL-MUHADDITS AL-ALBANY DARI KEDUSTAAN HASAN ALI AS-SAQQOF DAN PENDUKUNGNYA

PEMBELAAN TERHADAP AL-IMAM AL-MUHADDITS AL-ALBANY DARI KEDUSTAAN HASAN ALI AS-SAQQOF DAN PENDUKUNGNYA

Silsilah Bantahan Ilmiah Pertama Terhadap Tuduhan Dusta Muhammad Lazuardi al-Jawi dan Rekan-Rekannya Dari Hizbut Tahrir

 

Oleh : Abu Salma al-Atsary at-Tirnaatiy

 

Tulisan merupakan bantahan terhadap syubuhat yang dilontarkan oleh fanatikus Hizbut Tahrir yang menyerang ahlus sunnah dan salafiyin yang disebarkan oleh Muhammad Lazuardi al-Jawi dan al-Mujaddid (baca : al-Mudzabdzab) yang memuntahkan muntahan busuk di dalam forum http://www.gemapembebasan.or.id (baca : gemapembid’ahan). Saya menyadari bahwa di tengah kesibukan TA/Skripsi saya sekarang ini, ketergesa-gesaan saya dan minimnya waktu untuk muthola’ah dan muroja’ah, memungkinkan risalah ini memiliki beberapa kesalahan yang tak disengaja maupun kekurangan-kekurangan lainnya. Besar sekali harapan saya jika ada ikhwah sekalian yang membetulkan dan memberi masukan terhadap bantahan ini sehingga dapat lebih menyempurnakan jihad rudud ini terhadap ahlul bid’ah dan pendukungnya. Semoga risalah ini dapat bermanfaat.

 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji hanya milik Allah yang kita menyanjung-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon pengampunan-Nya dan kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang dileluasakan kesesatan kepadanya, maka tak ada seorangpun yang mampu menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang Haq untuk diibadahi kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah limpahkanlah Salam dan Barokah kepada beliau, kepada keluarga beliau dan para sahabat beliau, dan kepada siapa saja yang meniti jalannya dan berpetunjuk dengan petunjuknya hingga hari kiamat.

Amma Ba’du :

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala meninggikan kedudukan ulama pengemban wahyu dengan menghormati, memuliakan dan menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi sebagaimana Allah Ta'ala telah memuliakan mereka. Mereka adalah para pembawa agama dan pelindungnya, pelita dalam kegelapan, pembeda antara kebenaran dan kebatilan, pewaris para nabi dan yang meniti jalan mereka. Jadi bagaimana mungkin mereka tidak mendapatkan kedudukan, kecintaan serta penghormatan di dalam hati?!!

Imam Abu Utsman Ismail ash-Shabuni berkata tatkala menceritakan ciri-ciri Ahlul Bid’ah, ”Tanda-tanda bid’ah pada pengikutnya itu sangat jelas sekali. Tanda mereka yang paling jelas adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap para pembawa hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, menghina dan meremehkan mereka, serta menyebut mereka hanya sebagai pelengkap tak berguna, tekstual dan mujassim (penyerupa Allah dengan makhluk-Nya), lantaran mereka meyakini bahwa hadits-hadits Rasulullah itu jauh dari ilmu, dan bahwasanya ilmu itu yang disampaikan oleh syaithan kepada mereka dari hasil pemikiran akal mereka yang rusak, bisikan-bisikan hati mereka yang gelap serta bersitan-bersitan hati mereka yang hampa dari kebaikan, alasan dan hujjah mereka yang tidak relevan lagi sia-sia, bahkan syubhat yang ada pada mereka licik lagi bathil.

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan pengelihatan mereka.”

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak ada seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Ia kehendaki.”[1]

Abu Hatim ar-Razi berkata : ”Salah satu ciri Ahlul Bid’ah adalah adanya cercaan mereka terhadap Ahlul Atsar.”[2]

Ibnul Qaththan berkata : ”Tidak ada seorang mubtadi’ pun di dunia ini melainkan ia sangat membenci Ahlul Hadits.”[3]

Saya katakan : Tidak ragu lagi, bahwa al-Firqotun Najiyah (Golongan yang selamat) adalah Ahlul Atsar atau Ahlul Hadits.[4]

Sebelum masuk ke pembahasan, ada baiknya kita telaah terlebih dahulu, siapakah yang dimaksud dengan ulama?!!

Imam Bukhari rahimahullahu berkata : ”Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan maka Ia memahamkannya tentang agamanya.” kemudian beliau berkata, ”Said bin Ufair menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami dari Yunus dari Ibnu Syihab, dia berkata : Humaid bin Abdurrahman berkata, aku mendengar Mu’awiyah sedang berkhutbah, dia berkata : Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya maka Ia memahamkannya tentang agamanya. Aku bersumpah demi Allah yang Maha Memberi, ummat ini senantiasa melaksanakan perintah Allah dan tidaklah membahayakan orang-orang yang menentangnya hingga datangnya hari kiamat.”[5]

Ibnu Hajar rahimahullahu berkata, ”Al-Bukhari menegaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang atsar-atsar (Ahlul Hadits)”. Ahmad bin Hanbal berkata : ”Jika mereka bukan Ahlul Hadits, lantas aku tidak tahu siapa mereka”. Al-Qadhi Iyadh berkata : ”Yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.”[6]

Saya berkata : Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah para Ahlul Hadits yang beraqidah Ahlus Sunnah.[7]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : ”Sesungguhnya diantara tanda-tanda hari kiamat adalah dituntutnya ilmu dari Ashaghir.”[8]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda : ”Sesungguhnya manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menuntut ilmu dari sahabat Rasulullah dan dari para ulama mereka. Jika mereka menuntut ilmu dari para Ashaghir maka di saat itulah mereka binasa.”[9]

Ibnul Mubarak berkata : ”Ashaghir adalah Ahlul Bid’ah”.[10]

Saya berkata : Diantara ciri Ahlul Bid’ah adalah kedengkian dan celaan mereka terhadap Ahlul Hadits.

Tidak ragu lagi, bahwa Samahatul Imam al-Muhaddits Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullahu adalah Imamnya Muhadditsin yang terkemuka saat ini yang keilmuannya tentang ilmu hadits bagaikan samudera tak bertepi, dan kami tidaklah mensucikan seorangpun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Cukuplah pernyataan ulama-ulama selain beliau yang menunjukkan kedudukan dan posisi beliau.

Al-Allamah al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz rahimahullahu, Mantan Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi berkata : ”Aku tidak mengetahui seorang ’alim di bawah kolong langit ini pada abad ini yang dalam ilmu hadits melebihi al-Allamah al-Albany.”

Al-Allamah Muhammad Hamid al-Faqi rahimahullahu, mantan pimpinan Jama’ah Anshorus Sunnah al-Muhammadiyah sekaligus Muhaddits Mesir berkata : ”asy-Syaikh Nashirudin adalah saudara kami yang bermanhaj salaf, seorang pembahas dan peneliti (hadits) yang cermat.”

Faqiihuz Zamaan al-Allamah Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullahu, ulama kibar Kerajaan Arab Saudi berkata : ”Ia (Albani) adalah orang yang banyak ilmunya dalam hadits baik riwayah maupun dirayah...”

Dan masih beribu-ribu lagi untaian pujian berderai bagi samahatul imam dari para ulama dan penuntut ilmu senior di seluruh penjuru dunia, seperti Syaikh Abdush Shomad Syarafuddin, Syaikh Ubaidillah ar-Rehmani, Syaikh Muhammad Mustofa al-A’zhami yang mereka semua adalah muhaddits India, Syaikh Muhammad bin Ali Adam muhaddits dari Ethiopia, Syaikh Muhammad Shufut Nuruddin Muhaddits dari Mesir, dan masih banyak lagi lainnya yang jika sekiranya dihimpun dan dituliskan semuanya, maka akan menjadi sebuah buku yang sangat tebal.[11]

Namun, diantara sunnatullah dalam kehidupan ini adalah adanya ujian bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan as-Sunnah dan atsar salaf di sepanjang masa, yang datang dan berasal dari manusia-manusia yang benci dan dengki serta iri hati. Mereka senantiasa berusaha menjatuhkan martabat ulama hadits dan menjelek-jelekkan mereka. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap menjaga dan memelihara mereka –para ulama hadits-, dan Dia pasti akan memenangkan kebenaran dan menetapkan akhir yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.

Diantara para pendengki dan pendusta dari kalangan Ashaghir yang menampakkan permusuhan dan kebenciannya terhadap sunnah dan ahlinya adalah Hasan Ali as-Saqqof[12], seorang pengangguran dari Yordania yang didaulat oleh fanatikusnya terutama Hizbut Tahrir sebagai ulama hadits Yordania. Pembaca budiman akan saya tunjukkan beberapa karakteristik keserupaan as-Saqqof ini dengan pola pikir Hizbut Tahrir yang setali tiga uang atau seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. As-Saqqof ini menulis sebuah buku gelap yang dianggap fenomenal oleh fanatikus butanya yang berjudul : Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath (Kontradikitif Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru) yang jika ditelaah di dalamnya dipenuhi dengan tadlis, kedustaan, pengkhianatan ilmiah dan kebodohan penulisnya terhadap ilmu hadits. Akan datang penjelasan hal ini –insya Allah- dan para pembaca sekalian akan mengetahui kebobrokan dan kejahatan as-Saqqof ini di dalam bukunya tersebut.

Di dalam risalah ini, saya juga akan berusaha membongkar kejahilan dan makar Muhammad Lazuardi al-Jawi, simpatisan Hizbut Tahrir yang menukil, menterjemah dan menyebarkan tulisan gelap as-Saqqof ini yang dicomotnya dari situs bid’iyah terkenal http://www.masud.co.uk yang dimotori oleh seorang tokoh jahmi tulen dan pembela bid’ah, Hamim Nuh Keller al-Jahmi ash-Shufi. Kita tidak perlu heran, karena Keller ini memiliki aqidah yang sama dengan as-Saqqof yaitu sama-sama jahmi, dan hal inilah yang sepertinya merupakan simpul benang merah yang dapat ditarik dengan Hizbut Tahrir yang aqidahnya juga tidak jauh dengan jahmiyah. Tulisan ini juga sebagai bantahan terhadap tulisan ngelantur yang berjumlah hampir 100 halaman dari seorang yang berkedok dengan al-Mujaddid (baca : al-Mudzabdzab) yang membantah salafiyin di forum http://www.gemapembebasan.or.id (baca : gemapembid’ahan) yang isinya kebanyakan menukil tulisan Muhammad Lazuardi al-Jawi. Insya Allah akan datang penjelasan dan bantahan-bantahan terhadap tulisan ngelanturnya di bantahan kedua.

Saya katakan : al-Bid’ah millah waahidah (Kebid’ahan itu adalah agama yang satu), maka tidak heran jika para pendukung bid’ah dapat bersatu padu di dalam memerangi ahlus sunnah, sebagaimana bersatunya Hizbut Tahrir dengan para pembela sufi, jahmi, asy’ari, maturidi, mu’tazili, fanatikus madzhabi dan selainnya. Akan datang juga penjelasan hal ini –insya Allah-.

Saya katakan : Hizbut Tahrir bersepakat dengan as-Saqqof dalam banyak perkara. Diantaranya adalah :

1.       As-Saqqof melecehkan sahabat nabi yang mulia, terutama terhadap Mu’awiyah radhiallahu 'anhu dan ulama Ahlus Sunnah lainnya, yang tidak jauh berbeda dengan Hizbut Tahrir. Akan datang penjelasannya.

2.       As-Saqqof dan Hizbut Tahrir bersepakat di dalam aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah dan Jahmiyah, serta memerangi aqidah salafiyah. Akan datang penjelasannya.

3.       As-Saqqof dan Hizbut Tahrir sama-sama bodoh di dalam ilmu hadits dan pirantinya. Para pembaca budiman akan mengetahuinya sebentar lagi.

4.       As-Saqqof dan Hizbut Tahrir sama-sama suka berkhianat ilmiah, berdusta dan melakukan talbis (mencampuradukkan antara haq dan bathil) serta menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sebagaimana akan datang penjelasannya.

5.       As-Saqqof dan Hizbut Tahrir sama-sama fanatik dan ta'ashub terhadap fikrah atau pemikiran pendahulunya.

6.       Yang lebih penting dari kesemua di atas adalah, as-Saqqof dan Hizbut Tahrir sama-sama bersepakat di dalam memerangi dakwah salafiyah dan ahlinya.

Di dalam risalah ini, ana merujuk pada beberapa kitab dan artikel, sebagai amanat ilmiah ana sebutkan diantaranya :

1.     Al-Anwaarul Kaasyifah li tanaaqudlaat al-Khossaaf az-Zaa`iqoh wa Kasyfu maa fiiha minaz Zaighi wat Tahriifi wal Mujaazafah yang ditulis oleh Syaikhuna al-Fadhil Ali Hasan al-Halabi al-Atsari, Darul Ashoolah. Kitab ini dihadiahkan oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullahu 3 tahun lalu kepada guru saya, al-Ustadz al-Fadhil Abdurrahman bin Abdil Karim at-Tamimi ­hafizhahullahu dan ana fotokopi dari beliau. Alhamdulillah kitab ini banyak memberikan faidah dan menunjukkan hakikat kejahatan as-Saqqof terhadap Imam Albany dan penelantaran ilmu hadits.

2.     At-Tanbiihatul Maliihah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Basith bin Yusuf al-Gharib, yang telah diterjemahkan oleh Pustaka Azzam dengan judul ”Koreksi Ulang Syaikh Albany”.

3.     Al-Qoulus Sadiid fii Raddi ’ala man ankara Taqsiimit Tauhiid yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr, yang telah diterjemahkan oleh Najla Press dengan judul ”Bantahan Pengingkaran Tauhid”.

4.     Dari beberapa website seperti : http://www.salafipublications.com, http://www.allaahuakbar.net dan selainnya.

Sebenarnya, ada beberapa kitab yang ditulis oleh para ulama yang juga membantah tanaqudlaat tulisan as-Saqqof ini, diantaranya bantahan yang ditulis oleh asy-Syaikh al-Fadhil DR. Khalid al-Anbari hafizahullahu yang berjudul Tanaaqudlaat al-Albany al-Waadlihaat Talbisaat wa-ftiro`aat, juga yang ditulis oleh Syaikh ’Amru Abdul Mun’im Salim al-Mishri, dan ada lagi beberapa ulama dan thullabul ilmi yang turut menulis bantahan terhadap as-Saqqof ini. Namun yang sampai di tangan ana hanyalah al-Anwaarul Kaasyifah, namun hanya dengan kitab ini, kebobrokan dan kedustaan as-Saqqof insya Allah dapat terbongkar.

Syaikh Ali Hasan al-Halabi mengatakan, bahwa orang yang mengetahui buku Tanaqudlaat Albany ini, tidak lepas dari 4 jenis orang :

1.     Orang bodoh yang dengki, yang hanya melihat judul bukunya saja namun tidak mengetahui realita isinya, hanya karena selaras dengan kedengkian dan hawa nafsunya, mereka menggunakan buku ini untuk membantah tanpa diiringi dengan kefahaman dan pengetahuan.

2.     Orang-orang hasad yang licik, yang mereka mengetahui isi buku ini namun mereka jahil terhadap hakikatnya dikarenakan hasad mereka telah mendarah daging dan menyatu dengan desahan nafas mereka.

3.     Pelajar yang bingung yang tidak mengetahui al-Haq

4.     Pelajar yang adil yang mengetahui kebodohan as-Saqqof dan menyingkap hakikat dirinya.

Dari keempat macam orang ini, mubtadi’ dan pembelanya, serta Hizbut Tahrir tidak lepas dari 3 macam orang yang disebutkan di awal.

Mari kita kupas kebobrokan as-Saqqof dan bukunya at-Tanaqudlaat ini, dan kebodohan para pendukungnya terutama dari Hizbut Tahrir.

 

AS-SAQQOF MENCELA SAHABAT TERUTAMA MU’AWIYAH DAN MENGKAFIRKAN IMAMNYA UMMAT SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Ketahuilah wahai orang yang berakal, bahwa orang yang engkau dengang-dengungkan sebagai muhaddits ini adalah tidak lebih dari para pencela sahabat dan melemparkan tuduhan kafir terhadap ulama ummat ini.

Syaikh Ali Hasan al-Halabi berkata di dalam al-Anwaarul Kaasyifah (hal. 9) : ”Takfir (pengkafiran) dari orang zhalim ini terhadap imamnya dunia (yaitu Syaikhul Islam) tidaklah datang begitu saja, namun takfir ini datang sebagai pembelaan terhadap pemuka-pemuka ahlul bid’ah yang jahil dan terhadap muqollid (pembebek) yang beku akalnya dari kalangan asy’ariyah dan jahmiyah, yang mana syaikhul Islam bersumpah atas dirinya untuk mengkritik mereka dan membantah penyimpangan-penyimpangan mereka, dan beliau menegakkan perang terhadap mereka sepanjang hidupnya baik dengan tangan, hati maupun lisannya. Beliau menyingkap kebatilan mereka di hadapan manusia dan menerangkan talbis dan tadlis mereka, beliau hadapi mereka dengan akal yang sharih dan nukilan (dalil) yang shahih...”

Syaikh Ali melanjutkan (hal 11-12) : ”Dan takfir ini pada realitanya merupakan senjata andalannya (as-Saqqof), telah menceritakan kepadaku seorang yang bersumpah dengan jujur –insya Allah- bahwa al-Khossaf (sebutan terhadap as-Saqqof) ini berkata kepadanya dan ia mendengar dengan telinganya (bahwa as-Saqqof berkata) : ”Aku tidak mengkafirkan Ibnu Taimiyah kecuali aku menjelaskan kesalahan murid-muridnya! Sesungguhnya dirinya tidaklah ma’shum”. Demikianlah perkataannya, sebagai pengejawantahan kaidah yang tidaklah beriman kepada Allah dan tidak pula hari akhir, yaitu : Tujuan menghalalkan segala cara!! Cela mana lagi yang lebih besar dari kehinaan ini?!! Sungguh indah apa yang diucapkan oleh al-Allamah Badruddin al-’Aini (wafat tahun 841 H.), seorang pensyarah Shahihul Bukhari di dalam taqrizh beliau terhadap ar-Raddul Waafir (hal. 264) yang menjelaskan hukum bagi orang yang mengkafirkan Imam dunia ini : ’... Jika demikian keadaannya, maka wajib atas ulil amri untuk menghukum orang bodoh lagi perusak yang berkata tentang hak Ibnu Taimiyah sebagai kafir! Dengan bentuk hukuman dengan pukulan yang keras dan penjara terali yang berlapis. Barang siapa berkata kepada muslim, wahai kafir maka akan kembali ucapannya kepada dirinya, apalagi jika lancang melemparkan najis seperti ini dan berkata dengannya terhadap hak si ’alim ini (Ibnu Taimiyah), terlebih lagi jika ia sudah meninggal, dan telah datang larangan dari syariat dari membicarakan hak kaum muslimin yang telah meninggal, dan Allahlah yang maha mengambil al-Haq dan menampakkannya.’

Dan berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu di dalam taqrizh beliau juga terhadap kitab yang sama (hal. 263), dan as-Sakhowi juga turut mengisyaratkan pula hal ini di dalam adl-Dlou’ul Laami’ (VIII/104) : ’Tidaklah seseorang yang berkata bahwa Ibnu Taimiyah itu kafir melainkan hanya dua orang, entah dia orang yang hakikatnya kafir ataukah ia orang yang bodoh tentang keadaannya...’”

As-Saqqof juga menuduh Sahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dengan nifaaq dan menganggapnya murtad. Sebagaimana diutarakan oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi (hal. 11), ”Dan termasuk kesempurnaan kesesatan orang yang zhalim lagi lalai ini adalah sebagaimana yang dikabarkan oleh dua orang yang mendengarkan ucapannya, bahwa dia menuduh di beberapa majlisnya, bahwa sahabat yang mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu 'anhu dengan nifaq, dan mengisyaratkan bahwa Mu’awiyah telah murtad dan termasuk penghuni neraka...!!! Semoga Allah merahmati Imam Abu Zur’ah ar-Razi yang berkata : ’jika engkau melihat ada orang yang mencela sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq!!!..”

Saya berkata : Beberapa pendukung as-Saqqof ini menuduh Syaikh Ali Hasan telah berdusta, namun kebenaran adalah bersama ahlul haq, buku as-Saqqof yang berjudul Daf’u Syubahit Tasbiih menjadi saksi atas kelancangannya dan keberaniannya menuduh sahabat Mu’awiyah radhiallahu 'anhu. Ia berkata di catatan kaki Daf’us Syubah (hal. 237), ”Aku (as-Saqqof) berkata : Mu’awiyah membunuh sekelompok kaum yang shalih dari kalangan sahabat dan selainnya hanya untuk mencapai kekayaan duniawi. Dan diantara mereka adalah Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Ibnu Jarir menukilnya di dalam Tarikh-nya (III/202) dan Ibnul Atsir di dalam al-Kamil (III/453) dan lafazh ini darinya. Alasan kematiannya adalah pasalnya ia menjadi orang yang mulia/terkemuka di mata penduduk Syam, mereka lebih condong kepada beliau karena ia memiliki karakteristik yang mirip ayahnya (Khalid bin Walid), dan karena kemanfaatan pada dirinya bagi kaum muslimin di tanah Romawi dan juga karena keberaniannya. Jadi, Mu’awiyah menjadi takut dan khawatir terhadapnya, lantas ia memerintahkan Ibnu ’Uthaal seorang nashrani untuk merencanakan pembunuhannya. Mu’awiyah memberikan jaminan padanya pembebasan pajak selama umur hidupnya... jadi ketika Abdurrahman kembali dari Romawi, Ibnu Uthaal memasukkan racun ke dalam minumannya melalui pelayannya. Lantas beliapun meninggal di Hums (sebuah tempat di pusat Siria), dan Mu’awiyah memenuhi janji yang dia berikan kepada Ibnu ’Uthaal. Aku (as-Saqqof) berkata : Apakah diperbolehkan membunuh seorang muslim? Sedangkan Allah berfirman : ”Barangsiapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, maka tempatnya adalah neraka dan ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Murka Allah dan laknat-Nya atasnya, dan adzab yang pedih dipersiapkan baginya.” (QS 4 : 93)?!... Ada empat karakteristik Mu’awiyah, dan setiap karakteristiknya akan diadzab di kubur, gegabah menghunus pedangnya secara zhalim kepada ummat ini sampai ia berhasil meraih kekhilafahan tanpa musyawarah, baik terhadap sahabat yang masih hidup saat itu dan orang-orang shalih lainnya. Ia mewariskan kekuasannya kepada puteranya yang seorang pemabuk[13], pemakai pakaian sutera dan pemain alat musik... ia membunuh Hujr dan sahabat-sahabat Hujr, maka celakalah dirinya dan apa yang ia lakukan kepada Hujr...”

Tanggapan : Lihatlah, bagaimana as-Saqqof menukil riwayat ini dari al-Kamil padahal kisah tersebut tidak memiliki isnad. Kisah ini memang memiliki isnad di dalam Tarikh ath-Thabari namun sanadnya palsu menurut kaidah ilmu hadits. Syaikh Nashir al-’Ulwan membahas kedustaan riwayat ini di dalam Ittihaaf Ahlil Fadhl juz I dan lihat pula pembahasan sistematik tentang studi kritis terhadap Tarikh ath-Thabari yang ditulis oleh DR. Muhammad Amhazun dalam disertasinya yang berjudul Tahqiq Mauqif ash-Shohabah fil Fitnah min Riwayaati al-Imaam ath-Thobari wal Muhadditsin yang telah diterjemahkan dengan judul ”Fitnah Kubra”. Hal ini menunjukkan bagaimana as-Saqqof menukil secara serampangan tanpa meneliti sanad berita yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muhaddits atau peneliti hadits, bahkan ia menukil berita yang tidak memiliki sanad!![14] Apakah yang mendorong dirinya melakukan demikian?? Wallahu a’lam bish Showab.

Padahal Nabi yang mulia 'alaihi Sholaatu wa Salaam  memilih Mu’awiyah sebagai penulis wahyu Allah, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam mendo’akan Mua’wiyah : ”Ya Allah, ajarkan Mu’awiyah al-Kitab dan selamatkan dirinya dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad (IV/127) dan Ibnu Hibban (566)). Juga sabdanya 'alaihi Sholaatu wa Salaam : ”Ya Allah, jadikanlah dirinya orang yang mendapat petunjuk lagi menunjuki”[15]. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memperingatkan umatnya dari mencerca sahabat dalam sabdanya : ”Janganlah kalian sekali-kali mencerca sahabatku, jika seandainya ada diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, tidak akan mampu mencapai satu mud yang mereka infakkan, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Muslim). Terlebih lagi, bukankah Mu’awiyah itu pamannya kaum muslimin?? Mengapa dirimu begitu lancang mencela dan mencercanya dengan membawa berita tak bersanad dan dengan sanad palsu??

Imam Al-Lalika`i meriwayatkan di dalam as-Sunnah (no. 2359) bahwa Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad al-Hanbal berkata : ”Jika kau melihat seorang berbicara buruk tentang sahabat, maka ragukanlah keislamannya.”

Beliau juga berkata di dalam as-Sunnah (hal. 78)  : ”Barangsiapa yang mencela para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam atau salah seorang dari mereka, ataupun meremehkan mereka, mencela dan membuka aib-aib mereka ataupun menjelekkan salah seorang dari mereka, maka ia adalah seorang Mubtadi’, Rofidli, Khabits (busuk), Mukhalif (orang yang menyempal), ...”

Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata : ”Jika engkau melihat ada seseorang yang merendahkan salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, maka ketahuilah sesungguhnya ia adalah Zindiq! Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah haq di sisi kami, dan al-Qur’an itu haq, dan yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sesungguhnya mereka menghendaki mencela persaksian kita dengan tujuan membatalkan al-Kitab dan as-Sunah. Mencela mereka lebih utama karena mereka adalah Zindiq...!!!” (Dikeluarkan oleh al-Khathib di dalam al-Kifaayah fi ’ilmir Riwaayah hal. 67)[16]

Imam Barbahari berkata di dalam Syarhus Sunnah : ”Jika kau melihat ada seseorang mengkritik sahabat nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang jahat ucapannya dan pengikut hawa nafsu, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Jika kau mendengar sahabat-sahabatku disebut maka tahanlah lisanmu.” (Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Mas’ud dan haditsnya shahih.[17]).

Haihata haihata...!!! Wahai as-Saqqof, Apakah dirimu begitu membenci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menasehatkan untuk menjaga lisan dari memperbincangkan keburukan sahabat sehingga tidak kau indahkan nasehatnya wahai as-Saqqof???.

Beliau rahimahullahu berkata di dalam Minhajus Sunnah (V/146) : ”Oleh karena itu dilarang (memperbincangkan) perselisihan yang terjadi diantara mereka, baik para sahabat maupun generasi setelahnya. Jika dua golongan kaum muslimin berselisih tentang suatu perkara dan telah berlalu, maka janganlah menyebarkannya kepada manusia, karena mereka tidak mengetahui realita sebenarnya, dan perkataan mereka tentangnya adalah perkataan yang tanpa ilmu dan keadilan. Sekiranya pun mereka mengetahui bahwa kedua golongan tersebut berdosa atau bersalah, kendati demikian menyebutkannya tidaklah mendatangkan maslahat yang rajih dan bahkan termasuk ghibah yang tercela. Para sahabat Ridlawanullahu ’alaihim ’ajmain adalah orang yang paling agung kehormatannya, paling mulia kedudukannya dan paling suci jiwanya. Telah tetap keutamaan mereka baik secara khusus maupun umum yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Oleh karena itu, memperbincangkan perselisihan mereka dengan celaan adalah termasuk dosa yang paling besar daripada memperbincangkan selain mereka.”[18]

Ingatlah pula ucapan al-Hafizh Ibnu Katsiir berikut ini, beliau rahimahullahu berkata di dalam al-Ba’its al-Hatsits (hal. 182) : ”Adapun perselisihan mereka pasca wafatnya Nabi ’alaihi Salam, yang diantara perselisihan tersebut ada yang terjadi tanpa didasari oleh kesengajaan seperti peristiwa Jamal, ada diantaranya yang terjadi karena faktor ijtihad seperti peristiwa Shiffin. Ijtihad itu bisa salah dan bisa benar. Namun, pelakunya dimaafkan jika ia salah, bahkan ia diganjar satu pahala. Adapun ijtihad yang benar maka ia mendapat dua pahala.”[19]

Wahai as-Saqqof dan siapa saja dari pembebeknya… wahai Lazuari al-jawi, wahai Syabab Hizbut Tahrir yang mendaulat as-Saqqof sebagai muhaddits...!!! Apakah anda telah membaca kitab-kitab karya ulama hadits berikut ini :

1.     Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w. 256) di dalam Shahih-nya, kitab Fadlail Ashhabin Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Bab : Qowlun Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Law Kuntu Muttakhidzan Khaliilan (Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam seandainya aku menjadikan kekasih).

2.     Abul Husain Muslim bin Hajjaj al-Quysairi an-Naisaburi (w. 261) di dalam Shahih-nya, kitab Fadlailus Shahabah, Bab : Tahriimu Sabbis Sahabah Radhiallahu 'anhum (Haramnya mencela sahabat radhiallahu 'anhum)

3.     Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani (w. 275) di dalam Sunan-nya, kitab as-Sunnah, Bab : an-Nahyu ‘an Sabbi Ashhabin Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (Larangan mencela sahabat Nabi)

4.     Abu Isa Muhammad bin Isa at-Turmudzi (w. 259) di dalam Sunan-nya, dalam bab-bab al-Manaqib ’an Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Bab : Fiiman Sabba Ashhaba an-Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (Bagi siapa yang mencela para sahabat)

5.     Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib an-Nasa`i (w. 303) di dalam kitabnya Fadlailus Shahabah, Bab : Manaqib Ashhabin Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam wan Nahyu ’an Sabbihim rahimahumullahu  ajma’in wa radhiallahu 'anhum (Manakib Para Sahabat Nabi dan Larangan Mencela Mereka).

6.     Abu Abdillah Yazid bin Abdillah al-Qirwani (w. 273) di dalam muqoddimah Sunan-nya, Bab : Fadlail Ashhabi Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

7.     Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti (w. 354) di dalam Manaqib ash-Shahabah, Rijaaluha wa Nisaa’uha bidzikri asmaa’ihim radhiallahu 'anhum ajma’in (Manakib Sahabat, kaum lelaki dan wanitanya dengan menyebut nama-namanya), dalam bab : Fadlail ash-Shahabah wat Tabi’in yang menyebutkan : al-Khabar as-Daalu ’ala anna Ashhaba Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam Kulluhum Tsiqaat wa ’uduul (Berita yang menunjukkan bahwa Sahabat Rasulullah seluruhnya kredibel dan terpercaya) dan az-Zajru ’an Sabbi Ashhabi Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam alladzi Amarallahu bil Istighfar Lahum (Ancaman terhadap mencela sahabat Rasulullah yang Allah memerintahkan untuk memohon ampun bagi mereka). Demikan pula dalam kitabnya al-Majruuhin minal Muhadditsin tentang haramnya mencela sahabat.

Dan masih beribu-ribu lagi penjelasan para ulama ahlus sunnah baik salaf maupun kholaf yang menjelaskan tentang haramnya mencela sahabat... Lantas, bagaimana kita menempatkan as-Saqqof ini dan para pembebeknya terhadap hak para sahabat nabi yang mulia??? Yang mana para Imam Ahlus Sunnah bersepakat bahwa pencerca Sahabat Nabi dikatakan sebagai Zindiq, Mubtadi’ atau Rofidloh!!! Maka bertaubatlah wahai pencerca...!!! Ibrahim bin Maisarah berkata : ”Aku tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seseorang pun kecuali orang yang mencerca Mu’awiyah. Beliau memukulnya dengan beberapa kali cambukan.”[20] Aduhai, sekiranya Umar bin Abdul Aziz hidup saat ini untuk mencambuki kelancangan as-Saqqof ini...

 

AQIDAH AS-SAQQOF ADALAH JAHMIYAH TULEN

Hasan Ali as-Saqqof tidak hanya berhenti menunjukkan kekejamannya terhadap para sahabat dan ulama ummat ini. Namun dia juga menabuh genderang perang terhadap ahlus sunnah dengan menuduh ahlus sunnah berkeyakinan tatslits (trinitas) di dalam buku suramnya yang berjudul at-Tandid biman ’adadit-Tauhid wa Ibthalu Muhawalatut-Tatslits fit Tauhid wal ’Aqidah Islamiyyah dikarenakan Ahlus Sunnah membagi Tauhid menjadi tiga macam, yaitu Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ wa Sifat. Menurutnya pembagian Tauhid menjadi tiga adalah hal bid’ah yang dimunculkan pada abad ke-8, dan ia mengisyaratkannya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai pencetus istilah bid’ah ini (lihat kitabnya hal. 10) dan ia menuduh Ibnu Abil ’Izz al-Hanafy sebagai pelopor madzhab bathil pengikut golongan bid’ah (hal. 6) dan mengisyaratkan bahwa Syaikhul Islam dan muridnya, Imam Ibnul Qoyyim adalah penganut faham mujassamah (mengatakan Allah mempunyai badan). Bahkan ia membela Sayyid Quthb dan Asy’ariyah dengan menyatakan bahwa mereka mensucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari jism dan tahayyuz sedangkan Syaikh Abdullah ad-Duwaisy (penulis buku al-mauriduzh Zhilal fii Tanbiih ’ala Akhtha`izh Zhilal yang telah diterjemahkan oleh Darul Qolam) sebagai pengikut madzhabnya Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim yang menetapkan sifat jisimun dan tahayyuz (hal. 19-20). Bahkan yang konyol, Hasan Ali Saqqof berpendapat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak disifati di luar alam semesta dan juga tidak di dalamnya (hal. 58).

Syaikh yang mulia, Prof. DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahumullahu menulis bantahan ilmiah terhadap kesesatan dan kedunguan Hasan Ali as-Saqqof ini di dalam kitab yang berjudul : Al-Qoulus Sadiid fii Raddi ’ala man ankara Taqsiimit Tauhiid yang telah diterjemahkan oleh Najla Press dengan judul ”Membantah Pengingkaran Tauhid” (Tambahan : Setelah ana cek dengan kitab asli, ternyata buku terjemahan ini memiliki beberapa kekeliruan penterjemahan, sehingga ada beberapa perkataan yang ana ralat, belum lagi adanya pemotongan-pemotongan naskah yang bisa dikategorikan sebagai pengkhianatan ilmiah, oleh karena itu ana bro' dengan kesalahan-kesalahan tesebut, sebagaimana telah ana sampaikan di milis as-sunnah), bacalah karena sungguh besar manfaatnya dan anda akan mengetahui hakikat kebodohan as-Saqqof ini. Syaikh Abdurrazaq berkata sebagai kesimpulan beliau setelah membaca buku as-Saqqof yang berjudul at-Tandiid ini sebagai berikut :

1.     Dia adalah seorang yang jahmiyah tulen, yang berpemahaman bahwa Allah tidak disifati dengan berada di alam maupun di luarnya dan dia juga menisbatkan pendapat ini secara dusta dan batil kepada Ahli Sunnah.

2.     as-Saqqof ini keluar dari kategori seorang cenedekiawan/pemikir dan dari kaidah ilmiah.

3.     as-Saqqof ini orang yang banyak kebohongannya dan sering melakukan tadlis dan talbis.

4.     Perkataannya jelek dan busuk, sering menfitnah Ahlus Sunnah, yang bisa ditemukan pada kitabnya pada halaman 6, 12, 17, 19 dan seterusnya.

5.     Ia termasuk Ahlul Bid’ah yang gemar menuduh Ahlus Sunnah sebagai Mujassamah.

6.     Gemar memuji Ahlul Bid’ah, apalagi gurunya yang bernama Muhammad Zahid al-Kautsari, seorang penghulu Jahmiyah tulen zaman ini. Hal ini bisa dilihat pada halaman 38, 39, 11 dan 27. Saya berkata : akan datang sekilas penjelasan tentang hakikat Zahid al-Kautsari al-Jahmi ini, yang dipuja-puja oleh pembebeknya, termasuk Hizbut Tahrir. Usut punya usut, ternyata mereka semua satu aqidah yaitu jahmiyah dan mereka bersepakat di dalam memerangi aqidah salafiyah dan ulamanya.

7.     Meremehkan dan melecehkan hadits-hadits shahih. Ana katakan : Bahkan as-Saqqof ini dangkal dan bodoh pemahaman haditsnya, sebagaimana akan kita bongkar kebodohannya di dalam ilmu hadits sebentar lagi. Tidak heran Hizbut Tahrir yang notabene ulamanya, tokohnya apalagi simpatisannya yang memang jahil terhadap ilmu hadits mudah terkecoh dengan kepiawaian as-Saqqof ini di dalam berdusta.[21]

Ketahuilah, bahwa Jahmiyah ini adalah firqoh tersesat diantara firqoh-firqoh yang ada. Bahkan beberapa ulama salaf tidak memasukkan Jahmiyyah sebagai 72 kelompok yang diancam siksa neraka, karena mereka menganggap bahwa Jahmiyah telah kafir keluar dari Islam. Dikarenakan Jahmiyah adalah kelompok yang meniadakan sifat-sifat bagi Allah, dan mereka adalah atheis-nya ummat ini.

Para ulama Salaf dan Kholaf bangkit membantah pemahaman sesat Jahmiyah ini. Syaikhul Islam membongkar kedok kesesatan mereka dengan menulis kitab Bayaanu Talbiis al-Jahmiyyah : Naqdlu Ta'sis al-Jahmiyyah, Imam Ibnu Darimi menulis kitab ar-Raddu ’alal Jahmiyyah, Imam Ahmad dan Imam Ibnu Khuzaimah juga menulis bantahan dengan judul yang sama, yaitu ar-Raddu ’alal Jahmiyyah, al-Allamah Ibnul Qoyyim, Syaikhul Islam kedua, menulis Ijtima’ al-Juyusy al-Islaamiy yang mengupas habis kesesatan Jahmiyah, demikian pula Imam adz-Dzahabi dalam al-’Uluw al-Aliy al-Ghoffar dan ikhtisharnya yaitu Mukhtashor al-’Uluw. Dan masih banyak lagi ulama-ulama ahlus sunnah yang membongkar kesesatan faham jahmiyah ini, yang sekarang sedang dijajakan dan dibela mati-matian oleh as-Saqqof dan didukung oleh pembebeknya dari kalangan shufiyun dan Hizbut Tahrir.

 

MEMBONGKAR KEBODOHAN AS-SAQQOF DALAM ILMU HADITS DARI KITAB GELAPNYA ”TANAQUDLAAT ALBANY”

Diantara pujian Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap hamba-hamba-Nya yang jujur dan ittiba’ terhadap sunnah rasul-Nya adalah dimenangkannya mereka atas sekelompok kaum pengumbar fitnah dan kebatilan. Perputaran sejarah telah membuktikan bahwa Ahlu Bid’ah senantiasa terkalahkan, tertumpas dan binasa, walaupun kalimat-kalimat mereka dihiasi dengan keindahan yang menipu atau walaupun kalimat-kalimat mereka menyebar luas dan seolah-olah memiliki argumentasi yang kuat, namun pada hakikatnya kalimat-kalimat mereka rapuh dan lemah, lebih rapuh dari sarang laba-laba.

Ahlus sunnah beserta segenap penyerunya, senantiasa menumpas dan memerangi kebid’ahan mereka. Diantara senjata utama Ahlul Bid’ah dan Ahwa’ adalah pengkhianatan ilmiah, kedustaan dan talbis antara haq dan bathil. Seorang penuntut ilmu dan peneliti hadits yang adil, pastilah akan mengetahui bahwa apa yang dimuntahkan oleh as-Saqqof di dalam Tanaqudlaat-nya tidak lebih daripada cermin kedengkian, kebodohan, kedustaan dan pengkhianatan ilmiah.

Syaikh Abdul Basith bin Yusuf al-Gharib dalam at-Tanbiihatul Maliihah berkata: “semua hadits-hadits yg dikemukakan as-saqqof dalam kitabnya at-tanaqudlaat telah aku telusuri semua, dimana ia menyangka bahwa hadits-hadits yang dikemukakan oleh  Syaikh al-Albany adalah bentuk pertentangan antara satu dengan lainnya, padahal  sebenarnya bukanlah pertentangan, tetapi lebih merupakan ralat atau koreksi atau ruju’, dan ini sesuatu yang dapat difahami oleh para penuntut ilmu. Jika kita membaca suatu hukum atau ketetapan Syaikh al-Albany terhadap suatu hadits dalam sebuah kitab, kemudian kita mendapati Syaikh al-Albany menyalahi hukum tersebut di dalam kitab lain, maka itu artinya beliau meralat atau ruju’ dalam hal ini, dan ini sering terjadi di kalangan para ulama salaf sebelumnya...”[22]

Syaikh Abdul Basith menelusuri kitab-kitab Syaikh Al-Albany dan mencatat koreksi atau ruju’ beliau dan beliau bagi dalam lima bagian, yaitu :

1.     Hadits-hadits yang syaikh al-Albany sendiri menegaskan ruju’ beliau.

2.     Hadits-hadits yang tertera secara tidak sengaja atau karena lupa, bukan pada tempat yang seharusnya.

3.     Ketiga, Hadits-hadits yang beliau ruju’ darinya berdasarkan pengetahuan mana yang lebih dulu (al-Mutaqoddim) dari yang belakangan (al-Muta`akhir) dari kitab-kitab beliau.

4.     Hadits-hadits yang belaiu ruju’ dari yang derajadnya hasan kepada shahih dan yang shahih kepada yang hasan.

5.     Penjelasan beberapa hadits yang beliau diamkan dalam al-Misykah kemudian beliau jelaskan hukumnya.[23]

Syaikh Ali Hasan al-Halaby al-Atsary berkata dalam al-Anwaarul Kaasyifah membantah kebodohan as-Saqqof :

”Ketahuilah, bahwasanya para muhaddits memiliki ucapan-ucapan tentang jarh wa ta'dil terhadap perawi yang berubah-ubah, pendapat tentang tashhih (penshahihah) dan tadl’if (pendhaifan) hadits yang berbeda-beda sebagaimana para fuqoha’ memiliki ucapan dan hukum yang bermacam-macam...

·         Berapa banyak dari permasalahan fikih yang imam Syafi’i memiliki dua perkataan atau pendapat di dalamnya?!!

·         Berapa banyak dari hukum syar’i yang Imam Ahmad memiliki pendapat lebih dari satu di dalamnya?!!

Lantas, apakah mereka dikatakan Tanaaqudl (Kontradiktif)?!!

·         Berapa banyak hadits yang ditetapkan keshahihannya oleh Imam adz-Dzahabi di dalam talkhish-nya terhadap Mustadrak al-Hakim namun didha’ifkan  olehnya di dalam al-Mizan atau Muhadzdzab Sunan al-Baihaqi atau selainnya?!!

·         Berapa banyak  hadits yang diletakkan oleh Ibnul Jauzi di dalam al-Maudlu’aat namun beliau letakkan pula di dalam al-Ilal al-Mutanaahiyah.

·         Berapa banyak perawi yang ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban namun belaiu letakkan di dalam al-Majruhin.

·         Berapa banyak perawi yang diperselisihkan oleh al-Hafizh di dalam Taqribut Tahdzib atau Fathul Bari` atau di at-Talkhishul Habiir.

Lantas, apakah mereka ini anda katakan tanaaqudl (kontradiktif)?!! Padahal, sesungguhnya hal ini adalah karena ijtihad yang berubah.

Al-Allamah al-Luknawi berkata di dalam Raf’ut Takmil (hal. 113) : ”Banyak anda jumpai perselisihan Ibnu Ma’in dan selain beliau dari para imam ahli naqd (kritikus hadits) terhadap seorang perawi yang mana hal ini dikarenakan berubahnya ijtihad...”

Syaikh Ali Hasan kembali berkata : ”Ketahuilah bahwa banyak hadits-hadits yang diperselisihkan oleh para ulama –diantaranya Syaikhul Albany- termasuk hadits hasan yang masih sulit membatasi kaidah di dalamnya, karena perlunya kedalaman di dalam meneliti dan banyaknya perbincangan dari pengkritik perawi di dalamnya...

Al-Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi rahimahullahu berkata di dalam al-Muuqizhoh (hal. 28-29) : ”...Tidaklah cukup bagi hadits hasan suatu kaidah yang dapat memasukkan seluruh hadits hasan ke dalamnya, aku benar-benar pesimis terhadap hal ini, karena berapa banyak hadits yang para hafizh berubah-ubah penilaiannya di dalamnya, entah tentang hasannya, dlaifnya maupun shahihnya! Bahkan seorang hafizh dapat berubah ijtihadnya tentang sebuah hadits, suatu hari ia menyatakan shahih namun di hari lain menyatakan hasan dan hari lainnya lagi seringkali menyatakan dha’if!!!”

Lantas, dimanakah ucapan yang tinggi ini di hadapan as-Safsaf (gelar yang diberikan Syaikh Ali kepada as-Saqqof)?!!

Imam al-Albany berkata di dalam Irwa’ul Ghalil (IV/363) : ”Sesungguhnya hadits hasan lighoirihi dan hasan lidzaatihi termasuk ilmu hadits yang paling rumit dan sulit, karena keduanya akan senantiasa berputar di sekitar perselisihan ulama tentang perawinya diantara yang mentsiqohkan dan mendhaifkan. Maka tidaklah dapat mengkompromikan diantara ucapan-ucapan tsb atau mentarjih pendapat yang paling kuat dari pendapat lainnya, kecuali orang-orang yang mumpuni keilmuannya tentang ushul dan kaidah ilmu hadits, mengetahui secara kuat tentang ilmu Jarh wa Ta'dil dan terbiasa dengannya semenjak waktu yang lama, mengambil faidah dari buku-buku takhrij dan kritikan para kritikus hadits, juga mengetahui kritikus yang mutasyaddid (keras) dan yang mutasaahil (lemah) serta yang pertengahan. Sehingga dengan demikian tidak terjatuh kepada Ifrath dan tafrith. Dan perkara ini adalah perkara yang sulit dan sangat sedikit sekali orang yang mampu memetik buahnya. Sehingga tidaklah salah jika ilmu ini menjadi asing di tengah-tengah ulama, dan Allahlah yang mengkhususkan keutamaannya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya.”

Saya berkata : Inilah diantara kebodohan-kebodohan as-Saqqof al-Jahmi, sehingga ia bagaikan orang yang meludah ke atas jatuh ke wajahnya sendiri. Ia tidak faham tentang kaidah taraju’ di dalam ilmu hadits dan ia anggap hal ini sebagai tanaaqudl.

Syaikh Ali berkata kembali : ”Ketahuilah, bahwa perkataan seorang alim tentang sanad suatu hadits : ’ini sanadnya dha’if’,  tidaklah menafikan ucapannya terhadap hadits tersebut di tempat lain : ’sanadnya shahih’... karena terkadang suatu sanad yang dha’if dapat dishahihkan atau dihasankan dengan adanya jalan-jalan periwayatan lain dan syawaahid serta mutaabi’ (penyerta) lainnya. (Lihat Ulumul Hadits hal. 35 karya Ibnu Sholaah dan an-Nukat (I/473) karya al-Hafizh Ibnu Hajar), apakah kaidah ini dikatakan tanaaqudl wahai as-Saqqof?!!

Berikut ini adalah lemparan kepada as-Saqqof dan pendukungnya...

·         Hadits : ”Barangsiapa memakai celak, maka hendaknya ia mengganjilkannya. Siapa yang memakainya maka ia mendatangkan kebaikan dan siapa yang tidak maka tidak ada dosa baginya...”

     Al-Hafizh melemahkannya karena ’illat majhulnya al-Hushain bin al-Jubrani di dalam at-Talkhisul Habiir (I/102,103), namun beliau menghasankannya di dalam Fathul Baari` (I/206).

·         Hadits tentang turunnya firman Allah : fiihi rijaalun yuhibbuwna an yatathohharuw terhadap Ahli Quba’.

     Al-Hafizh mendha’ifkan sanadnya di dalam at-Talhiishul Habiir (I/113) namun beliau shahihkan di dalam Fathul Bari` (VII/195) dan di dalam ad-Diroyah (I/97).

·         Hadits : ”Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah...”

     Al-Hafizh mendha’ifkannya di dalam Bulughul Maram (no. 11) namun beliau shahihkan di dalam at-Talkhiisul Habiir (I/261).

·         Hadits : ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat terhadap barisan shaf pertama”.

Imam Nawawi menshahihkannya di dalam al-Majmu’ (IV/301) namun beliau menghasankannya di dalam Riyadlus Shaalihin (no. 1090).

·         Hadits : ”Ingatlah penghancur kelezatan yaitu kematian”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani menghasankannya di dalam Takhriijil Adzkaar sebagaimana di dalam at-Taujiihaatur Robbaaniyyah (IV/50) namun beliau mensepakati Ibnu Hibban, Hakim, Ibnu Thahir dan Ibnu Sakkan atas keshahihannya di dalam at-Talkhiishul Habiir (II/101).

·         Idris bin Yasin al-Audi. Al-Hafizh mentsiqohkannya di dalam at-Taqriib namun mendhaifkannya di dalam al-Fath (II/115).

·         Nauf bin Fadloolah. Al-Hafizh menilainya di dalam at-Taqrib sebagai mastuur namun menghukuminya sebagai shaduq di dalam al-Fath (VIII/413).

·         Abdurrahman bin Abdil Aziz al-Ausi. Al-Hafizh menilainya di dalam at-Taqriib sebagai perawi yang shaduq qad yukhthi’ (terkadang salah), namun beliau mendhaifkannya di dalam al-Fath (III/210).

·         Al-Hafizh Ibnu Hajar menshahihkan di dalam an-Nukat ’ala Ibni ash-Sholaah (I/355-356) hadits yg diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ajlaan namun di dalam Amaalii al-Adzkaar (I/110) beliau menjelaskan bahwa haditsnya tidaklah terangkat dari derajat hasan.

·         Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil di dalam at-Talkhishul Habiir (IV/176) dari Nawawi di dalam ar-Roudloh tentang perkataannya mengenai hadits : “Tidak ada nadzar di dalam perkara kemaksiatan”, beliau berkata : “hadits dha’if menurut kesepakatan para muhadditsin”. Namun al-Hafizh membantah sendiri dengan ucapannya : “Hadits ini telah dishahihkan oleh ath-Thohawi dan Abu ‘Ali bin as-Sakkan, lantas dimanakah kesepakatan itu?!!”

·         Imam Nawawi berkata di dalam al-Majmu’ (II/42) mengenai hadits memegang kemaluan : ”Tidaklah kemaluanmu itu hanyalah bagian dari tubuhmu!”, beliau mengomentari : “Sesungguhnya hadits ini dha’if menurut kesepakatan huffazh”, sedangkan hadits tersebut dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hazm, ath-Thabrani, Ibnu at-Turkumani dan selain mereka. Demikian pula ucapan Ibnu Abdul Hadi di dalam al-Muharrar (hal. 19) : ”telah salah orang yang meriwayatkan kesepakatan akan kedha’ifannya.”

Dan masih banyak lagi contoh-contoh semacam ini bertebaran.

Saya katakan : Apakah mereka semua ini adalah orang-orang yang tanaaqudl?!! Jika melihat dari kaidah yang digunakan oleh as-Saqqof, maka mereka semua ini –para imam muhadditsin- dikatakan sebagai mutaanaqidlin (orang-orang yang kontradiktif)!!! Dan di sinilah letak kebodohan as-Saqqof yang lemah dan dangkal pemahamannya terhadap kaidah dan prinsip ilmu hadits. Fa’tabiru ya ulil albaab!!!

 

MEMBONGKAR KEDUSTAAN, TALBIS DAN TADLIS AS-SAQQOF SERTA PENGKHIANATANNYA DARI KITAB GELAPNYA ”TANAQUDLAAT ALBANY”

Sesungguhnya, kitab Tanaqudlaat Albany yg ditulis oleh si pendengki ini penuh dengan fitnah, kedustaan, tadlis, talbis dan pengkhianatan ilmiah. Ia sepertinya telah termakan bujuk rayu iblis dengan menjajakan kaidah sesatnya yang berbunyi al-Ghooyah tubarrirul wasiilah (Tujuan membenarkan segala cara), sebagaimana kaidah yang juga dipegang oleh Hizbut Tahrir yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi tujuan. Ternyata as-Saqqof dan Hizbut Tahrir ini bagaikan pinang dibelah dua, sama-sama pahitnya dan hitamnya. Oleh karena itu tidak heran, jika Nuh Hamim Keller[24] sang pembela kebid’ahan didukung oleh simpatisan Hizbut Tahrir seperti Muhammad Lazuardi al-Jawi bersepakat di dalam kegelapan as-Saqqof di dalam memerangi Ahlu Sunnah. Karena demikianlah karakteristik Ahlul Bid’ah, mereka menenggelamkan kepalanya ke dalam tanah namun ekornya siap menyengat siapa saja yang mendekat, bagaikan kalajengking!

Berikut ini pengkhianatan, talbis dan tadlis as-Saqqof sang pendusta[25]

1.     As-Saqqof berkata dalam kitabnya at-Tanaaqudlaat, hal. 97. Hadits : ”Tabayun –dalam lafazh lain Ta`anni (sikap kehati-hatian)- adalah dari Allah dan al-’Ajalah (tergesa-gesa) datangnya dari Syaithan. Maka bertabayunlah…”

     Tuduhan : As-Saqqof berkata : ”Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Albani dalam Dha’if al-Jami’ wa Ziyaadatuhu (III/45 no. 2503), dimana lafazh : ”Tabayun dari Allah” dishahihkan oleh beliau di dalam Silsilah al-Ahaadits As-Shahiihah (IV/404, dengan nomor 1795).”

     Cek : Ketika melihat kembali kitab Syaikh Albani Dha’if al-Jami’, beliau mengisyaratkan kedhaifannya dan menisbatkan riwayatn