w w w.kidungpenyair.cjb.n e t

 
Selamat datang di  www.kidungpenyair.cjb.net
 
 

:: Main ::

: Home

: About Us

: Guestbook

: Forum

:: Menu ::


  : Poems / puisi

: Jokes

: Zodiac

: Tips & Trik

: Chat

: Up 2 U


 
 

 

w w w.kidungpenyair.cjb.n e t

CINTA SEBENING TELAGA
BY:KIKU
 
 
Sepasang Angsa putih sedang berenang bermain-main,menyelusuri Telaga.Dan di pinggir Telaga itu juga, ada sepasang muda-mudi sedang duduk bersandar di bawah pohon Mangga,menghadap ke arah Telaga yang bening.Pantulan cahaya Matahari menembus masuk ke dasar air,sehingga mampak  terlihat jelas keindahan bawah air di Telaga itu.Ikan-ikan berenang bebas woro-wiri kesan kemari,lalu bersembunyi,menyusup masuk ke balik Ganggang dan Tumbuhan air yang hidup di Telaga itu.Bunga-bunga Teratai yang sedang mekar,memberikan ornament keindahan di Telaga.Ada sebuah kedamaian dan ketenangan jiwa di kala memandangnya dan berada di dekat Telaga itu.Daun-daun yang melambai tertiup angin yang berhembus sepoi perlahan,dan kicau burung Kutilang memecah keheningan Telaga.
 
Badrul duduk di samping Ayuni,menghadap ke arah Telaga.Sesekali tarikan nafasnya mendesah berat,Badrul tak tahu apa yang harus di katakanya sama Ayuni,sedang dia sendiripun merasa sudah tak mampu memikul beban berat yang ada di kepalanya.
Antara kasihan dan rasa bersalah terus menghantuinya,antara bicara atau tidak bicara, kedua kata itu terus berkecambuk,berperang di dalam otaknya. Badrul mengambil nafas panjang lalu sejenak dia menahanya di dalam dada,dan menghembuskanya perlahan-lahan. Badrul menatap wajah ayu di sebelahnya, Gadis bermata teduh, bola matanya bening sebening Telaga. Gadis itu adalah Bunga Teratai yang ada di Telaga hatinya, Ayuni Puspita nama gadis itu sudah terpatri di Tugu Prasasti hatinya. Badrul ingin mengutarakan apa yang ada di benaknya, ia ingin bercerita kalau dirinya akan pergi meninggalkan Kampung halamanya, merantau ke Jakarta.
 
"Nyi Ayuni,besok Akang mau pergi ke Jakarta.Doakan Akang Nyi, biar Akang bisa sukses". Dengan perasaan berat,ahirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Badrul.
"Apa,Akang mau merantau ke Jakarta?" Ayuni tersentak kaget. Badrul menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Nyi,maafkan Akang ! Akang sangat mencintai Nyai.Tapi apa yang di katakan Abah Nyai itu  ada benarnya. Akang ini orang miskin, pengangguran yang tak punya masa depan.Gembel seperti Akang ini tak pantas untuk mencintai dan bermimpi bisa hidup bersamamu." Badrul berkata dengan nada sedikit parau, pandanganya kosong kearah Telaga, sambil memperhatikan sepasang Angsa Putih di Telaga itu.
"Kang, jangan dengarkan kata-kata Abah,Ayuni akan tetap mencintai akang,apapun yang terjadi...takan ada yang bisa memisahkan cinta kita Kang." Ayuni berkata sambil terisak
"Akang janji Nyi, Akang pasti akan kembali untuk Nyai." Kedua tangan muda-mudi itu saling bergenggaman mengikrarkan janji untuk selalu bersama dalam suka dan duka, cinta sehidup-semati.
 
Badrul melambaikan tanganya dari balik jendela Bus antar kota (Kuningan-Jakarta), kearah Ayuni yang masih berdiri terpaku menghantarkan kepergianya di Terminal. Lalu Bus yang di tumpangi Badrul pun melaju menyelusuri jalan raya dan hilang dari pandangan Ayuni.
Ayuni berjalan dengan gontai tanpa semangat, setengah hatinya telah ikut terbawa dan pergi bersama  Badrul ke Jakarta.Ayuni hanya bisa meratap,meratapi nasib cintanya bersama Badrul yang tak pernah di restui oleh Abahnya.
 
Ayuni membuka kedua kelopak matanya,melirik ke arah jarum jam yang terpampang di dinding kamarnya.
"Sudah jam empat pagi..."gumamnya pada diri sendiri,Ayuni menyibakan selimutnya dan bergegas menuju ke kamar mandi.Sejenak kemudian ia kembali kekamarnya,mengganti pakaian dan melilitkan kerudung ke kepalanya,lalu keluar menuju Mushala yang letaknya tak begitu jauh dari Rumahnya.
 
Suasana Mushala itu masih sepi,Ayuni membuka pintu dan masuk kedalam Mushala lalu duduk ke saff paling depan. Jarum jam terus berdetak, dan sudah mendekati waktu subuh,namun suasana di Mushala itu masih sepi,belum ada seorang pun yang datang, kecuali dirinya.Ayuni teringat dengan Badrul...biasanya,setiap menjelang subuh Badrul selalu bertilawah menggunakan Microphone. Suaranya yang merdu,mendayu,membangunkan warga di sekitar Mushala dari lelap tidurnya. Untuk segera menghadap kiblat, menunaikan kewajiban terhadap Rabbnya.
 
Dengan segenap keberanian yang di milikinya,Ayuni berdiri, mengambil Kitab suci Al Qur'an, melangkah kearah Microphone.Hatinya merasa terpanggil untuk menggantikan Badrul 'Ngayat', lalu jari-jemari Ayuni meraih Microphone dan menggenggamnya erat;Auudzubiillahiimminaa syaaitoon nirrodziim, bismiillahi rahmaanii'raahiimm...,suara lembut Ayuni menggema di pagi buta, mengalunkan ayat-ayat Al Qur'an Nur'karim.
 
"Ki...bangun Ki,sudah Subuh".Nini Katmi menggoyang-goyangkan tubuh suaminya,
"dengar Ki ! itu suara siapa yang bertilawah ?" Ni Katmi bertanya pada suaminya sambil terus mengoyang-goyangkan tubuh kurus lelaki tua itu.
"Ahh, itukan suaranya si Badrul."Jawab Aki Somad sambil menggeliat.
"Bukan KI, itu suara perempuan ! " tandas Ni Katmi, meyakinkan pendengaranya.
Aki Somad mengucek matanya,mencoba mendengarkan suara tilawah itu dengan seksama.
"Iya Ni, itu suara perempuan. Siapa yang sedang mengaji ya Ni ?" tanya Aki Somad ikut penasaran.
"Ayo cepat bangun atuh Aki, kita pergi ke Mushala bareng !".Ni Katmi menarik sarung Aki Somad untuk segera mandi dan mengambil air wudhu.
 
"Assalamu alaikum"
"Walaikum salam"
Suara salam saling bersambut antar para jamaah yang mulai berdatangan ke Mushala, untuk sholat Subuh. Ayuni tersenyum bahagia, walau kebanyakan dari mereka yang datang hanya orang-orang yang lanjut usia.
"Sudaakhallahull'adziim..." Ayuni mengakhiri tilawahnya,lalu memberikan Microphone yang di pegangnya kepada Kang Djafar untuk segera mengumandangkan Adzan Subuh.
 
"Ehh,Neng Ayuni rupanya yang bertilawah. Nini kirain siapa ?" sapa Ni Katmi sama Ayuni, sebuah senyuman Aaayuni sunggingkan ke arah Ni Katmi. Lalu menggelar Sajadahnya di samping Ni Katmi.
"Ari si Badrul kamana, ente kelihatan batang hidungnya ?" Tanya Ni Patmah sama Ayuni, gadis itu menoleh ke belakang, melihat satu-persatu wajah jamaah wanita yang ada di Mushala itu. Namun sosok wanita tua yang di carinya tak di dapatinya di situ.
"Keman dia, kenapa Emak Badrul tidak datang ke Mushala.Apa dia sakit ?" Ayuni bertanya-tanya dalam hati.
Dengan tergagap,Ayuni menjawab pertanyaan Ni Patmah.
"A...Anu, Kang Badrul pergi ke Jakarta kemarin pagi "jelasnya.
                                     *()()*
Tiga tahun sudah berlalu,Badrul pergi tanpa kabar dan berita. Ayuni tak tahu dimana kekasihnya berada, di Jakrata atau entah berada dimana ?
Ayuni pernah meminta bantuan sama Empik dan Cecep untuk mencari Badrul di Jakrata, dan hasil pencarian kedua sahabatnya itu sia-sia. Badrul tak di ketahui dimana rimbanya,dia seakan lenyap di telan Bumi, hilang di sembunyikan oleh Awan yang kelam. Ayuni meradang bimbang, termangu sendiri di bawah pohon Mangga di tepi Telaga. Menunggu kekasihnya yang belum datang dan tak kunjung pulang jua...
 
"Ayu..., Ayuni,di panggil sama Abah !"Kepala Emak nyimbul dari balik pintu,melongok ke kamar Ayuni. Ayuni menutup Buku harianya,lalu bergegas menghampiri Abahnya di ruang tamu. Ada seorang laki-laki gendut sebaya Abahnya, duduk tak jauh dari tempat duduknya.
"Ada apa Bah ?"tanya Ayuni dengan santun sama Abahnya.
"Ayu,ini Juragan Suryana. Teman Abah dari Sumedang." Abah memperkenalkan tamunya pada Ayuni,lelaki gendut itu tersenyum, tatap matanya liar memperhatikan Ayuni.
Ayuni menundukan kepala dan pandanganya,menatap ke hamparan lantai yang dia pijak.
"Dia datang hendak berembuk,untuk menentukan tanggal perkawinan kalian." Imbuh Abahnya,menjelaskan maksud dan tujuan lelaki gendut itu. Ayuni tercengang,keringatnya mulai bercucuran, mengalir dari pori-pori kulitnya. Ayuni tak percaya, Abahnya tega menjodohkan Ayuni dengan lelaki gendut itu tanpa memberi tahunya dan meminta pendapatnya terlebih dulu. Tubuh Ayuni mendadak gemetar, dadanya terasa sesak untuk bernafas,seperti ada sebongkah batu besar yang mengganjal dan menyumbat aliran pernafasanya. Kata-kata yang di ucapkan Abahnya barusan, seperti petir yang menggelegar, menyambar , membakar hati dan jiwanya.
 
Ayuni menangis tersedu-sedu di pangkuan Emaknya.
"Mak, Ayuni tak mau menikah dengan Juragan Suryana. Tolong Ayuni Mak !" nada suara Ayuni memohon,meminta belas kasihan Emaknya agar mau membantunya bicara sama Abahnya untuk membatalkan perjodohan itu. Tapi semua sia-sia,Ayuni tahu Emaknya takan  pernah punya keberanian untuk melakukan semua itu. Emaknya terlalu lemah, terlalu nurut dan manut sama Abahnya. Tak ada yang berani dan menentang perintah Abahnya, yang keras dan otoriter.
 
Wanita paruh baya itu,membelai rambut gadis Ayu yang ada di pangkuanya. Hatinya ikut merasakan perih dengan nasib yang menimpa anak gadisnya, tapi dia sadar, tak ada yang bisa di lakukanya selain ikut meratapi nasib putrinya yang malang.
"Ayu, maafkan Emak !" wanita paruh baya itu mendekap dan memeluk anak gadisnya, sambil berlinangan air mata.
"Mak,Ayuni mencintai Kang Badrul. Ayuni tak mau menikah dengan siapapun kalau bukan sama Kang Badrul." Ungkap Ayuni sambil terisak.
"Emak tahu Ayu,tapi Abahmu..."
 
Ayuni mencoba menepiskan perasaan takut yang menggelayutinya, jantungnya berdenyut kencang, ketika langkahnya semakin mendekati Abahnya yang sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati secangkir Teh manis buatan Emaknya. Aku harus berani ngomong sama Abah, apapun yang terjadi !. Desak hatinya,memberikan semangat pada diri Ayuni untuk mengungkapkan keberatanya,menikah dengan Juragan Suryana.
"Bah,Ayuni mau ngomong sama Abah." Ayuni menghentikan langkahnya, didepan laki-laki paruh baya yang sedang menyeruput Teh manisnya.
"Kamu mau ngomong apa ? bicaralah ! Semuanya sudah beres, kartu undanganya tinggal di bagikan saja. Baju pengantinmu Abah sudah memesanya di Anna Collection, semuanya sudah siap. tinggal tunggu hari H nya saja." Jelas abahnya panjang lebar.
"Dengan perasaan sedikit ketakutan,akhirnya Ayuni mengutarakan ketidak bersediaanya menikah dengan Juragan Suryana.
"Bah,Ayuni tak mau menikah dengan Juragan Suryana !" Ayuni berkata dengan muka tegang, karena Ayuni tahu abahnya pasti akan marah dan mendampratnya.
 
Dan memang benar.Seketika itu juga, wajah lelaki paruh baya itu berubah merah karna marah terhadap Ayuni yang sudah berani melawan dan membantah. Tangan kekar lelaki paruh baya itu menarik lengan Ayuni dengan paksa.
"Jangan berulah macam-macam dan menentang Abah !"Abahnya berkata sambil menyeret Ayuni masuk ke kamaranya,lalu mengunci kamar Ayuni dari luar.
 
Ayuni tergolek lemas di dalam kamarnya,sudah tiga hari Abahnya mengurung Ayuni di dalam kamar dan menguncinya dari luar.Tak ada satu suap nasipun yang masuk kedalam perutnya, tidak juga satu teguk air yang membasahi kerongkonganya.Makanan yang di sajikan Emaknya, masih tergeletak di atas meja tanpa Ia menyentuhnya.
Malam sudah jauh merayap, suara-suara binatang malam bersahutan, memecah keheningan malam.Ayuni terjaga dari tidurnya, perutnya yang lapar dan keroncongan membuatnya tak bisa lena memejamkan matanya.Lalu sayup-sayup telinganya mendengar suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu kamarnya.Dengan perlahan dan hati-hati, orang itu mencoba membuka pintu kamar Ayuni dengan kunci yang sudah ada di tanganya.
 
"Emak..."Ayuni kaget,karena langkah kaki itu adalah langkah kaki Emaknya.
"Ssttt...!"Emak Ayuni meletakan jari telunjuk di depan bibirnya, mengisyaratkan Ayuni untuk tak banyak berbicara.Dengan sangat berhati-hati, Wanita paruh baya itu mendekati Ayuni.
"Pergilah malam ini juga, kalau kamu tak mau di nikahkan dengan Juragan Suryana !"Emaknya berkata dengan suara pelan, berbisik ke telinga Ayuni sembari memberikan lembaran uang sebagai bekal di perjalanan.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Ayuni menuruti apa yang di perintahkan oleh Emaknya.Ayuni keluar lewat pintu belakang, berjalan mengendap-endap menembus kegelapan malam yang kelam.Dengan tergopoh Ayuni berlari mengikuti langkah kakinya, menyelusuri lorong kecil yang sepi.
 
"Abaah...Ayu kabur !"Teriak Emaknya kaget, begitu mendapati kamar Putrinya yang kosong.
Abah Ayuni menjingkat, mendengar teriakan Istrinya.Lalu menghambur ke kamar Ayuni.Lelaki bertubuh kekar itu terperangah, tak percaya mendapati anak gadisnya sudah tak berada di kamarnya.Tarik nafas lelaki itu turun naik tak beraturan, raut mukanya menyiratkan kegeraman.Lalu mengepalkan tanganya dan meninju ke arah tembok yang tak berdosa."Bhuukk"
"Anak kurang ajar.Bagaimana mungkin dia bisa kabur dari kamarnya ?"maki dan tanyanya tak percaya.Dengan perasaan dongkol Ia menatap ke arah istrinya, tatapanya menyelidik dan menginterogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan,kenapa anaknya sampai bisa keluar dari kamarnya yang terkunci dari luar.
Emak Ayuni mencoba berkelit dan sebisa mungkin untuk bersilat lidah kepada suaminya kalau dirinya tidak tahu apa-apa.
 
Wajah Abah Ayuni terlihat menyeramkan, Ia mencak-mencak, memaki dan menghujat anaknya yang telah kabur,lelaki itu ngedumbel sepanjang jalan.Lelaki yang sedang dibakar emosi  dan kemarahaan itu berjalan menapaki jalan kecil menuju ke sebuah gubug reot di tepi Tegalan.
Seorang wanita tua yang usianya sekitar 60 tahunan menghuni gubug reot itu, dialah Emak Badrul.
 
"BRAAGG...Braaagg... Bragg..."lelaki itu menggedor pintu Gubug itu dengan kasar.
Mendengar pintunya ada yang menggedor, Emak Badrul pun beranjak membukakan pintu.Dilihatnya Abah Ayuni yang sedang geram berdiri di mulut pintu.
"Mana Ayuni, kau sembunyikan dimana anakku ?" Tanya dan bicaranya kasar sambil marah-marah.
"Dia tidak ada disini !"jawab dan elak Emak Badrul, sambil meregangkan kedua tanganya mencoba menghalang-halangi Abah Ayuni agar tak memasuki rumahnya.
"Aku tak percaya, dia pasti ada disini "Abah Ayuni menepis tangan Emak Badrul, dan memaksa untuk masuk.Keduanya saling dorong-mendorong, dan Emak Badrul terlalu lemah untuk menahan Abah Ayuni yang kekar.Akhirnya Emak Badrulpun terdorong, jatuh terjungkal ke lantai dan kepalanya membentur kaki meja yang ada di sudut ruangan.Ada cairan warna merah mengalir dari dahi wanita tua itu.Melihat dahi Emak Badrul terluka dan mengeluarkan darah, Ayuni keluar dari tempatnya bersembunyi di bawah kolong Ranjang dan langsung memburu, menghambur ke tubuh wanita tua itu.
 
Tanpa banyak bicara dan mengucapkan kata maaf kepada Emak Badrul karena telah mendorong dan membuatnya jatuh.Abah Ayuni langsung menarik, menggered anak gadisnya pulang dengan paksa.Ayuni meronta-ronta dan brontak, tak mau di ajak pulang.Tapi Abahnya terus memaksanya, menarik dan menyeret Ayuni.
Dan sebelum kaki Abah Ayuni keluar dari garis beranda gubug reot itu.Emak Badrul bersesumbar dan menyumpahinya, menyumpahi keotoriteran lelaki itu.
"Wahai lelaki yang kemaruk harta, aku sumpahin anak gadismu yang cantik itu menjadi gila hingga tak ada seorang pun yang mau menikahinya !" ujar Emak badrul, bersesumbar.
"Hoek Chuuhh...,simpanlah makianmu itu.Bersesumbarlah pada Jangkrik, dasar wanita gembel !" Abah Ayuni meludah di depan Emak Badrul dengan penuh arrogansi.
                                                    *()()*
Iblis mungkin telah merasuki hati Abah Ayuni, kemilau harta telah membutakan mata hatinya.Demi mencapai keinginannya, kali ini Abah Ayuni tega memasung  Anaknya.
"Kang Darmo, jangan-jangan anakmu itu kena Pelet, di guna-guna sama Badrul."ucap Toin, kerabat Abahnya yang sudah jadi tangan kanannya.
"Maksud kamu apa ?" Abahnya bertanya tak mengerti
"Neng Ayuni pasti di Kemat Kang, kalau tidak mana mungkin cintanya mendableg seperti itu." Jelas Toin, mengemukakan argumentnya.Abah Ayuni manggut-manggut, mengerti maksud perkataan Toin.Lalu keduanya terlibat rembukan yang serius.Setelah memilah-memilih,akhirnya tercapai kesepakatan di antara keduanya, untuk memanggil  dan mendatangkan seorang dulkun sakti yang di nilai bisa mengobati Ayuni.
 
Seorang laki-laki berkumis tebal,berjenggot panjang dan menyeramkan,masuk kedalam kamar Ayuni di dampingi oleh Mang Toin dan Abahnya.Laki-laki itu kemudian duduk bersila, menghadap ke sesajen yang sudah di siapkan oleh Mang Toin,sebagai sarana dan syarat-syarat melakukan ritual pengobatan terhadap Ayuni.Kemudian lelaki itu menyembur muka Ayuni dengan air yang katanya berasal dari Gua gunung Srandil.Lalu memaksa Ayuni agar mau meminum air itu.Ayuni ngotot tak mau membuka mulutnya dan Abahnya terus memaksanya dengan kasar, membuka mulut Ayuni secara paksa.
Lalu Ayuni meminumnya tapi tidak meneguknya, kemudian air yang sudah memenuhi mulutnya itu, di semburkanya lagi ke arah Dukun itu.Dukun itu menjingkat kaget !
"Biiuhh..." teriaknya kaget, melotot ke arah Ayuni.
"Sialan...,berani kau  menantangku Jin Kiprit.Awas kamu ya, dasar Jin keparaat !" maki dukun itu jengkel.
Hati Ayuni pedih dan miris, menatap ke arah Abahnya yang sudah tersesat jauh dalam kemusyirikan.Hati Abahnya sudah buta, mendung hitam sudah menutupi nuraninya.Menjadi budak dunia !.Hatinya beristigfar, memohon pertolongan dan perlindungan dari Rabbnya agar memberinya cahaya dan jalan yang terbaik.
                                       *()()*
Tanggal dan hari perkawinan Ayuni dengan Juragan Suryana sudah di depan mata.Namun kondisi Ayuni belum menampakan perubahan, masih sama seperti satu minggu sebelumnya.
Ayuni bicara sendiri, menangis dan tertawa sendiri, setiap ada Emak, Abah atau ada kerabatnya yang datang masuk ke kamarnya, Ayuni pasti akan berteriak dan menjerit-jerit atau menangis sesenggukan sambil menyebut-nyebut nama Badrul.
 
Ayuni gila...Ayuni gila..., berita tentang keadaan Ayuni yang menjadi gila, menjadi topik pembicaraan para ibu-ibu dan warga di kampungnya.Menyebar dari mulut ke mulut.Ada yang  merasa iba, ada yang berucap syukur dan ada yang berkata sinis tak berempati.Seperti halnya dengan seorang wanita tua yang berada di gubug reot itu,Ia berucap syukur, karena Tuhan telah mendengarkan doanya.Ia berucap syukur walaupun hatinya sebenarnya miris, tak tega melihat gadis itu menjadi gila, menjadi cemoohan orang-orang di kampungnya.
 
Berita tentang Ayuni yang menjadi gila terus menjalar kemana-mana, dari Desa ke desa lalu sampailah ke telinga Juragan Suryana di Sumedang.Mendengar calon istrinya menjadi gila, Juragan Suryana yang kaya raya itu pun mengutus orang kepercayaanya untuk menemui orang tua Ayuni di Kuningan dan membatalkan rencana perkawinanya.Pembatalan pernikahan  dari pihak Juragan Suryana, sangat memukul hati Abah Ayuni, pembatalan itu telah mencoreng mukanya.Abah Ayuni mengunci diri, malu untuk bertatap muka dengan para tetangga, terlebih lagi dengan kondisi Ayuni yang telah menjadi gila.
Lelaki itu nampak menyesali kesalahan dan perbuatanya, di tatapnya wajah Ayuni yang sedang tertawa-tawa sendiri.wajah lelaki itu nenar !, kemudian ia mendongakan wajahnya, menatap ke langit-langit kamar yang kosong."Maafkan Abah,Ayu !" Katanya lirih dalam hati.
                                                    *()()*
Seorang lelaki tampan bersahaja, berdiri mematung di terminal.Ia menatap ke sekeliling terminal yang terlihat sedikit lenggang.Kemudian menenteng tas dan kopernya, menghampiri kerumunan tukang ojeg yang sedang mangkal tak jauh dari terminal itu.Tanapa tawar-menawar harga, lelaki itu langsung meminta ke salah satu tukang ojeg itu untuk menghantarkanya,ketempat yang ingin dia tuju.
Di depan halaman gubug reot yang berada di tepi tegalan,lelaki itu meminta si tukang ojeg menghentikan sepeda motornya.Setalah mendapat bayaran, tukang ojeg pun pergi berlalu meninggalkan lelaki itu.
 
Lelaki itu mengetuk pintu gugug reot di hadapanya."Asalamu alaikum..."
Sepi,tak ada jawaban dari si pemilik gubug itu.Lalu mengulangnya sekali lagi, dan tetap tak ada jawaban dari pemiliknya.Ia diam, masih dengan pandangan lurus ke arah pintu, lalu terdengar olehnya suara langkah kaki dari dalam gubug itu berjalan menuju ke arah pintu.
"Di luar siapa...hantu atau manusia, orang jahat atau orang baik ?" Tanyanya.
"Emak, in Badrul.Buka pintunya,Mak !"jawab lelaki tampan bersahaja itu.
"Siapa...?" tanyanya sekali lagi,ingin memastikan dengan apa yang di dengarnya.
"Ini Badrul Mak,"Badrul mengulang kata-katanya.
Mendengar jawaban lelaki itu mengaku bernama Badrul, wanita tua itu bergegas membukakan pintu.Daun pintu pun terbuka dan menganga lebar.Sosok laki-laki tampan bersahaja berdiri di depan pintu.Badrul menghambur tubuh wanita tua di depanya lalu di ciumnya tangan wanita itu.
"Emak..."Badrul memeluk tubuhnya.Emak Badrul menatap tak bergeming, tak percaya kalau lelaki yang ada di depanya adalah Badrul.Anaknya yang telah tiga tahun pergi tanpa kabar dan berita. 
 
"Badrul anaku, kemana saja kau Nak ?"Tanya Emaknya dalam isak tangis kegembiraan.
"Maafkan Badrul Mak, Badrul merantau ke tempat yang sangat jauh dari sini Mak.Di negeri seberang lautan sana." jawabnya pelan sambil menghapus pipi Emaknya yang basah oleh air mata.Lalu Badrul menjelaskan pada Emaknya, kalau selama ini ia bekerja menjadi TKI di Jepang.Pak Budi Handoko yang telah menolong, mendaftarkanya ikut program Magang ke Jepang.Dan pak Budi juga yang telah membiayai segala keperluan administrasinya, lelaki itulah yang telah banyak berjasa pada Badrul.
Hati Emaknya bahagia, dan tak lupa menucap syukur kepada Allah yang telah melimpahkan kasih dan karunia-Nya melalui Pak Budi Handoko,yang sudah banyak menolong anaknya.
 
Badrul merebahkan badannya yang pegal dan capai sehabis melakukan perjalanan jauh,ke atas tempat tidurnya.Lampu cempor yang menggantung di dinding gedeg gubugnya, menerangi kamar Badrul dengan sinarnya yang redup tak seterang lampu-lampu neon.Di bawah keremangan lampu cempor itu, pikiranya menerawang kosong, membawa khayalnya terbang ke masa lalu. Pada bunga Teratai yang ada di telaga hatinya.Ayuni puspita, dadanya berdenyut kencang, gemuruh kerinduanya pada Ayuni begitu membara dan menjulang setinggi gunung Puji Yama.Matanya terus memandang ke arah jarum jam, mengharapkan malam cepat berganti pagi. Agar ia bisa cepat melepaskan rasa kangenya pada bunga Teratai itu,  bisa memandangi wajah ayunya,bisa menatap bola matanya yang bening sebening Telaga.
 
Fajar telah menyingsing, cahaya surya menembus masuk ke kamar Badrul melalui celah-celah pagar gedegnya.Membangunkan Badrul dari lelap tidurnya.Badrul menggeliat, mengucek matanya lalu berjalan ke arah jendela.Di bukanya daun jendela itu lebar-lebar, menatap ke hamparan sawah-sawah yang menghijau.Ahh... rasanya sudah tiga tahun lamanya Ia merindukan panorama alam seperti ini, batinya.
 
Setelah membersihkan badannya di Padasan,Badrul duduk di balai-balai rumahnya, bersama Emaknya sambil menikmati Singkong rebus sebagai menu sarapan pagi.Anak dan ibu itu saling bercerita, bercengkrama bahagia.Badrul menceritakan pengalamanya di Jepang sama Emaknya, sambil sesekali menanyakan keadaan kampungnya ketika dia berada di perantauan.
"Mak...,gimana kabarnya Ayuni?" tanya Badrul sama Emaknya, sambil memasukan Singkong rebus kedalam mulutnya.Emaknya diam, tak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita tua itu.
"Ayuni baik-baik saja kan Mak...?" Tanyanya lagi penasaran.Wanita tua itu masih diam, membisu seribu bahasa.Ada semacam rasa bersalah tersirat di wajahnya, lalu wanita tua itu memalingkan mukanya tak sanggup menatap mata anak semata wayangnya.
"Mak, katakan ada apa dengan Ayuni Mak ?"Badrul memburu dan semakin penasaran dengan keanehan sikap Emaknya.Wanita tua itu menundukan kepala dan wajahnya.
"Ayuni Gila..."katanya lirih, sambil menangis terisak.
"Tidaaaaaaaaak..."Badrul menjerit, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
 
 
 
Tati Nurhayati binti surpan
Alamat:Flat 9D/F HELENA GDN, 263 PRINCE EDWARD RD WEST-KOWLOON HK
HP:65750379
ID;W566876(2) 
 


Home

 
 
Copyright © 2001 - 2004 www.kidungpenyair.cjb.net
 
1